BELAJAR SEJARAH ~ KISAH PARA DESERSI EKSPEDISI PAMALAYU ( INDRAWARMAN DAN RATU SANG NATA PULANG PALI)

BELAJAR SEJARAH ~ KISAH PARA DESERSI EKSPEDISI PAMALAYU ( INDRAWARMAN DAN RATU SANG NATA PULANG PALI)

Setelah serangan pasukan Rajendra Chola dari Koromandel India ke Sriwijaya sekitar tahun 1025, di dan berhasil menaklukan serta menawan Raja Sangrama Vijayatungavarman, Kerajaan Melayu di bawah pimpinan Srimat Trailokyabhusana Mauli Warmadewa pun bangkit kembali.

Pada tahun 1275 Kertanagara raja Singhasari, mengirimkan utusan untuk menjalin persahabatan dengan Kerajaan Dharmasraya di Sumatera. Pengiriman utusan ini terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu.

Tetapi baik Nagarakretagama ataupun Pararaton sama sekali tidak menyebutkan siapa nama pemimpin ekspedisi ini. Berdasarkan beberapa sumber dari Jawa Kidung Panji Wijayakrama, sumber Batak dan Landak Kalimantan, pasukan ekspedisi Pamalayu dipimpin oleh tiga perwira Singasari yaitu: Indrawarman, Sang Nata Pulang Pali dan Mahesa Anabrang.

Setelah kerajaan Melayu di Dharmasraya dengan rajanya waktu itu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa takluk dan menjadi kerajaan vasal Dingisari maka pada tahun 1286 Kertanagara mengirim Arca Amoghapasa untuk ditempatkan di Dharmasraya.

Prasasti Padangroco menyebutkan bahwa arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatra dengan diiringgi beberapa pejabat penting Singhasari di antaranya ialah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrahma, Payaman Hyang Dipangkaradasa, dan Rakryan Demung Mpu Wira.

Setelah penyerahkan arca tersebut, Raja Melayu kemudian menghadiahkan dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak, untuk dinikahkan dengan Kertanagara di Singhasari.

Sementara itu dari China menurut catatan Dinasti Yuan, Kaisar Khubilai Khan mengirim pasukan Mongol untuk menyerang kerajaan Singhasari tahun 1292. Namun, Singhasari ternyata sudah runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang. Pasukan Mongol kemudian bekerja sama dengan Raden Wijaya penguasa Majapahit untuk menghancurkan Jayakatwang.

Sesudah itu, Raden Wijaya ganti mengusir pasukan Mongol dari Pulau Jawa. Kepergian pasukan yang dipimpin Ike Mese itu terjadi pada tanggal 23 April 1293.

Setelah mendengar berita jatuhnya Singasari oleh pasukan Jayakatwang dan jatuhnya Kediri oleh pasukan Mongol serta berdirinya kerajaan baru yaitu Majapahit, pasukan Mahesa Anabrang pulang ke Majapahit dengan menyerahkan dua putri Melayu, yaitu Dara Jingga yang dinikahi oleh Rakyan Mahamantri Adwayabrahma dan melahirkan Tuhan Janaka atau Adityawarman dan Dara Petak yang dinikahi oleh Raden Wijaya dan melahirkan Kalagemet atau Jayanegara.

Sementara itu sumber dari Batak, pasukan Indrawarman yang telah berhasil menguasai daerah-daerah penghasil lada di Sungai Dareh Minangkabau, Jambi dan Sumatra Utara berusaha mengamankan daerah tersebut dengan menetap di daetah Asahan dan Simalungun untuk menghambat ekspansi kerajaan Samudra Pasai dari utara.

Tokoh Indrawarman ini tidak pernah kembali ke Jawa, melainkan menetap di Sumatra dan menolak mengakui kekuasaan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singhasari.

Dikisahkan bahwa Indrawarman bermarkas di tepi Sungai Asahan. Ia menolak mengakui kedaulatan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai ahli waris Kertanagara. Namun, ia juga tidak mampu mempertahankan daerah Kuntu–Kampar yang akhirnya direbut oleh Kesultanan Aru–Barumun pada tahun 1299.

Ia meninggalkan Asahan dan mendirikan kerajaan Silo di Simalungun dengan bantuan marga Siregar Silo. Pada waktu itu, daerah antara Sungai Silo dan Bah Bolon didiami oleh marga Siregar Silo yang datang dari Lontung/Samosir (diduga keluarga O.Tuan Nakhoda, Datu Bira dan Datu Mangambe, karena O. Si Lima Lombu diduga menyebrang ke pulau Nias dan memakai marga Zega).

Pelabuhannya di muara sungai Bah Bolon yang bernama Indrapura sesuai dengan nama Indrawarman dan ibukotanya di Dolok Sinumbah. Pengikut Indrawarman dari suku Jawa memasuki marga-marga yang telah ada di daerah tersebut seperti Silo, Damanik, Girsang, Purba. Sedangkan Indrawarman sendiri memakai marga Siregar Silo.

Empat puluh enam tahun kemudian pada tahun 1339, barulah datang pasukan tentara Majapahit dibawah pimpinan patih Gajahmada dan Adityawarman menyerang kerajaan Silo. Raja Indrawarman gugur dalam pertempuran dengan pasukan Majapahit. Dolok Sinumbah, Perdagangan, Keraksaan dan Indrapura hancur dibumihanguskan tentara Majapahit.

Kerajaan Silo berantakan, keturunan raja bersembunyi di Haranggaol. Para Keturunan Indrawarman kembali ke kerajaan dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean.

Sementara itu, Kerajaan Dolok Silo dan Raya Kahean berakulturasi menjadi kerajaan Batak Simalungun, namun tetap berciri khas Hindu Jawa absolut. Konon kerajaan ini mampu berdiri selama 600 tahun.

Pada saat yang sama dua kerajaan lain muncul kepermukaan; Kerajaan Siantar dan Kerajaan Tanah Jawa. Raja di Kerajaan Siantar merupakan keturunan Indrawarman, sementara Kerajaan Tanah Jawa, dipimpin oleh Raja Marga Sinaga dari Samosir. Penamaan tanah Jawa untuk mengenang Indrawarman, Panglima perang Singosari dari Jawa.

Dikisahkan setelah menghancurkan Simalungun pasukan Majapahit di bawah komando Mahapatiih Gajah Mada, mengamuk dan menghancurkan beberapa kerajaan lain; Kerajaan Haru Wampu serta Kesyahbandaran Tamiang (sekarang Aceh Tamiang) yang saat itu merupakan wilayah kedaulatan Samudra Pasai.

Tetapi naas pasukan Samudra Pasai, di bawah komando Panglima Mula Setia, turun ke lokasi dan berhasil menyergap tentara Majapahit di rawa-rawa sungai Tamiang dimana kapal-kapal jung Majapahit sulit betgerak. Gajah Mada bersama pengawalnya berhasil meloloskan diri ke Jawa setelah bersandar di teluk Aru, sementara tentaranya masih terkepung oleh pasukan musuh.

Semenatara itu dikisahkan Ratu Sang Nata Pulang Pali, pemimpin salah satu rombongan pasukan Singosari lainnya justru membelokkan armada pasukannya menuju Nusa Tanjungpura, yang kini dikenal sebagai Borneo atau Pulau Kalimantan.

Di pulau yang terkenal sebagai salah satu paru-paru dunia itu, perjalanan rombongan Ratu Sang Nata Pulang Pali diawali ketika mereka singgah di daerah Padang Tikar, kemudian diteruskan menyusuri Sungai Tenganap yang kala itu dikisahkan sedang meluap, hingga akhirnya berlabuh di daerah Sekilap atau yang kini disebut Sepatah.

Sementara, terdapat sumber lain yang menyebutkan bahwa beliau bersama rombongan berjalan melewati Ketapang dan menyusuri Sungai Kapuas hingga berbelok melalui Sungai Landak Kecil (anak sungai Kapuas) dan berhenti di Kuala Mandor (kini merupakan sebuah daerah di Kabupanten Landak, Kalimantan Barat)

Di tempat inilah Ratu Sang Nata Pulang Pali mendirikan Kerajaan Landak, dan nama daerah Sekilap kemudian diganti menjadi Ningrat Batur atau Angrat (Anggerat) Batur.

Konon, untuk membangun sebuah kerajaan, Ratu Sang Nata Pulang Pali I ‘menaklukkan‘ masyarakat setempat dengan cara membagi-bagikan garam. Pembagian garam inilah yang membuat masyarakat setempat respek pada kedatangan Ratu Sang Nata Pulang Pali beserta rombongannya.

Masyarakat lantas bersedia membantu beliau mendirikan sebuah bangunan yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istana Kerajaan Landak. Sayangnya, tidak terdapat satupun sumber yang menjelaskan mengapa pendekatan membagikan garam secara cuma-cuma tersebut dipilih.

Berbeda dengan kerajaan Indrawarman, Silo Simalungun yang dihancurkan oleh Mahapatih Gajahmada dari Majapahit dan Adityawarman, kerajaan Landak ini tak tersentuh sama sekali oleh kekuatan militer Majapahit.

Dalam buku Lontar Kerajaan Landak disebutkan bahwa setelah Kerajaan Landak berdiri di Ningrat Batur (yang kini dikenal dengan nama Tembawang Ambator), periode pertama pemerintahan kerajaan ini bergulir cukup lama, yakni selama 180 tahun (1292—1472 M).

Pada periode pertama pemerintahan Landak, negeri ini dipimpin oleh tujuh raja, yaitu Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga Raden Kusuma Sumantri Indera Ningrat dengan gelar kebangsawan Abhiseka Ratu Brawijaya Angkawijaya Ratu Sang Nata Pulang Pali VII.

Selama masa kepemimpinan Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga VI, kerajaan ini tidak memiliki istana selayaknya sebuah kerajaan. Sampai pada akhinya tiba masa pemerintahan Ratu Sang Nata Pulang Pali VII di mana Kerajaan Landak memiliki kompleks istana terpadu untuk kali pertama.

Kemungkinan hal ini sengaja dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kemungkinan invansi Majapahit sebagaimana menimpa pada kerajaan Indrawarman, Silo Simalungun.

Disebutkan dalam Indoek Lontar Keradjaan Landak (1942, dalam Usman, 2007: 5) Ratu Sang Nata Pulang Pali VII menikahi Putri Dara Hitam, putri dari Patih Tegak Temula, yang kemudian menjadi permaisuri kerajaan. Dari perkawinan tersebut, Ratu Sang Nata Pulang Pali VII memiliki keturunan bernama Abhiseka Sultan Dipati Karang Tanjung yang sekaligus merupakan putera mahkota. Setelah raja Landak terakhir di Ningrat Batur tersebut mangkat, sang putera mahkota kemudian naik tahta dengan gelar Pangeran Ismahayana.

Berikut kutipan dari tulisan Gusti Sulung Lelanang di dalam Indoek Lontar Keradjaan Landak mengenai proses ini:

adapun sebagai pangkal sejarah Kerajaan Landak, yaitu dari Raden Kusuma Sumantri Indra Ningrat (Ratu Bra Wijaya Angka Wijaya) yang mendirikan kerajaan Hindu di Angrat Batur (Ningrat Batur atau Batu Ningrat [Tembawang Ambator]) dan bergelar (Ratu) Sang Nata Pulang Pali (I). Beliau memiliki tujuh keturunan (hingga Pulang Pali terakhir atau Ratu Sang Nata Pulang Pali VII). Ratu Sang Nata Pulang Pali VII beristrikan “Dara Hitam” (putri dari Patih Tegak Temula dari Kurnia Sepangok tanjung Selimpat) dan berputrakan Raden Ismahayana (Iswarahayana). Apapun Raden Ismahayana, adalah raja (pertama) Kerajaan Landak yang memeluk agama Islam pada akhir abad XIV dan mendirikan ibunegeri (pusat pemerintahan) Kerajaan Landak di Munggu (Ayu)”.

Pada era pemerintahan Pangeran Ismahayana (1472—1542), pusat kerajaan dipindahkan ke kawasan hulu Sungai Landak, yang kemudian dikenal dengan nama Mungguk Ayu. Pada masa inilah pengaruh Islam mulai masuk. Islam dibawa oleh orang-orang Bugis dan Banjar yang kala itu memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Landak.

Pangeran Ismahayana kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Abdul Kahar. Sultan Abdul Kahar memiliki dua orang putra dari perkawinannya dengan Nyi Limbai Sari yang bergelar Ratu Ayu (putri Patih Wira Denta), yaitu Raden Tjili Tedung dan Raden Tjili Pahang.

Setelah Pangeran Ismahayana wafat, ia digantikan oleh putranya, yaitu Pangeran (Raden) Kusuma Agung Muda (Raden Tjili Tedung), yang menjadi Sultan Landak ke IX. Pada masa pemerintahannya, pusat kekuasaan dipindahkan dari daerah Mungguk Ayu menuju Bandong (sebagian menyebutnya Bandung) pada tahun 1703, sebuah wilayah yang letaknya tidak jauh dari Mungguk Ayu.

Alasan pemindahan pusat pemerintahan ke Bandong ini belum diketahui hingga saat ini. Namun, Kerajaan Landak di Bandong hanya bertahan hingga dua periode pemerintahan (1703—1768) di mana tampuk kekuasaan hanya sempat dipegang oleh Raden Kusuma Agung Muda (1703—1709) dan putranya, Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714—1764). Sepeninggalan Raden Nata Tua, jalannya pemerintahan untuk sementara dikendalikan oleh wakil raja, yakni Raden Anom Jaya Kusuma (1764—1768), sembari menunggu sang putera mahkota tumbuh dewasa.

Berikut periode pemerintahan kerajaan Landak yang diagi ke dalam empat periode dari dua fase, yaitu:

Fase Hindu

a. Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292—1472)

Fase Islam

b. Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472—1703)

c. Kerajaan Landak di Bandong (1703—1768)

d. Kerajaan Landak di Ngabang (1768—sekarang)

BELAJAR SEJARAH ~ PERANG JAWA SRIWIJAYA AKAR INVANSI MONGOL KE JAWA


Sri Gandra adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1181. Nama gelar abhisekanya ialah Sri Maharaja Koncaryadipa Handabhuwanapadalaka Parakrama Anindita Digjaya Uttunggadewa Sri Gandra.

Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Jaring, 19 November 1181. Isinya berupa pengabulan permohonan penduduk desa Jaring melalui Senapati Sarwajala tentang anugerah raja sebelumnya yang belum terwujud.

Tidak diketahui kapan pemerintahan Sri Gandra berakhir. Raja Kadiri selanjutnya berdasarkan prasasti Semanding tahun 1182 adalah Sri Kameswara.

Pada masa pemerintahannya inilah awal mula nama-nama hewan digunakan sebagai gelar kepangkatan seseorang dalam istana. Nama-nama ini menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang di istana kerajaan misalnya Menjangan Puguh, Lembu Agra, dan Macan Kuning. Gajah Hayam dan lainnya.

Disebutkan dalam dalam naskah kitab Pustaka Rājya-Rājyai Bhumi Nusāntara yang merupakan bagian dari Naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta Cirebon bahwa telah terjadi peperangan besar.

Yaitu Perang Jawa Vs Melayu yang pernah terjadi pada tahun 1103 Saka, peperangan besar tersebut meletus di perairan Sunda, yang mewakili bangsa Jawa dalam peperangan ini adalah Kerajaan Kediri sementara yang mewakil Bangsa Melayu dalam perang ini adalah Kerajaan Sriwijaya.

Dikisahkan Sri Gandra bersama angkatan perang Kediri menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau-pulau di bumi Nusantara, termasuk yang ada di Pulau Jawa dan pulau-pulau sebelah timurnya.

Armada lautnya yang besar berangkat beriringan menuju keutara, ke timur, ke barat. Mereka selalu mendapat kemenangan dalam perangnya.

Tetapi kerajaan-kerajaan di pulau bagian barat semua sudah tunduk kepada kerajaan Sriwijaya. Oleh karena itu, balatentara Kediri lalu menyerang kerajaan Sriwijaya. Demikianlah, armada laut Kediri dengan Sriwijaya berperang di tengah laut Jawa Barat.

Pada peperangan itu keduanya bertempur dengan gagah berani, tiada yang kalah. Masing-masing kembali ke negerinya. Cita-cita Sang Prabu Kediri tidak tercapai. Sedangkan kerajaan Sriwijaya tidak berani menyerang Kediri.

Dengan sendirinya Raja Sriwijaya kemudian menyuruh utusannya pergi kepada Maharaja Cina memberitahukan dan meminta bantuan Sang Maharaja Cina, karena Kerajaan Kediri ingin menyerang Kerajaan Sriwijaya. Bukankah sudah lama Kerajaan Sriwijaya bersahabat dengan Kerajaan Cina. Begitu juga Kerajaan Kediri sudah lama bersahabat dengan Kerajaan Cina.

Kemudian Maharaja Cina mengutus dutanya dengan membawa dua pucuk surat yaitu sepucuk surat untuk diberikan kepada Raja Sriwijaya, dan yang sepucuk lagi untuk diberikan kepada Raja Kediri.

Hal ini dilakukan oleh Sri Maharaja Cina supaya Kerajaan Kediri dan Kerajaan Sriwijaya segera mengakhiri perseteruan di antara mereka. Serta segera mengadakan perundingan.

Raja Kediri mempertimbangkan kembali dan mengakhiri perseteruan dengan menjalin persahabatan. Adapun yang dijadikan tempat mengadakan perjanjian persahabatan kedua negeri ituadalah Sundapura di Bumi Jawa Barat.

Yang menjadi saksinya dari beberapa negeri yaitu utusan dari Kerajaan Cina, utusan Kerajaan Yawana, Utusan Kerajaan Syangka, utusan Kerajaan Singhala, utusan Kerajaan Campa, utusan Kerajaan Ghaudi, dan beberapa utusan kerajaan dari Bumi Bharata.

Dengan segala usaha yang sungguh-sungguh akhirnya selesailah dengan sempurna, dengan mempererat persahabatan dan saling bekerjasama di antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Kediri dalam segala hal, pada tahun seribu seratus empat (1104) Saka.

Keduanya menaati perjanjian persahabatan itu. Kemudian Kerajaan Sriwijaya sejak saat itu menguasai pulau-pulau di Bumi Nusantara sebelah barat serta Kerajaan Sang hyanghujung. Sedangkan Kerajaan Kediri semenjak itu menguasai pulau-pulau di Bumi Nusantara sebelah timur.

Di antara kerajaan-kerajaan yang takluk kepada Kerajaan Sriwijaya adalah Tringgano, Pahang, Langkasuka, Kalantan, Jelutung, Semwang, Tamralingga, Ghrahi, Palembang, Lamuri, Jambi, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Batak, Minangkabwa, Siyak, Rokan, Kampar, Pane, Kampeharw atau Mandahiling, Tumihang, Parllak, dan di barat Lwas Samudra, dan di Lamuri, Batan, Lampung, Barus, termsuk juga Jawa Barat di Bumi Sunda yaitu daerah yang berada di sebelah barat Sungai Cimanuk, atau di sebelah timur Sungai Citarum ke sebelah barat.

Sedangkan yang termasuk kerajaan daerah kerajaan Kediri di antaranya yaitu Tumapel, Medang, Hujung Ghaluh, Jenggi, daerah Jawa Tengah, Ghurun, dan pulau-pulau yang ada di Ghurun Tenggara, Nusa Bali, Badahulu, Lwah Ghajah, Sukun di Taliwang, dan Domposapi, Sanghyang Api, Bhim, Seran, Hutan, Lombok, Mirah, Saksakani, Bantayan, Luwuk, kemudian dari pulau-pulau Makasar, Butun, Banggawi, Kunir, Ghaliyao, Salaya, Sumba, Solot, Muar, Wandan, Ambwan, Maloko, Timur,Tanjungnagara di Kapuhas, Kantingan, Sampit, dan Kutalingga, Kutawaringin, Sambas, Laway, Kandangan di Landa, Tirem, Sedu, Buruneng, Kalka, Saludung, Solot, Pasir, Baritwa di Sawaku, Tabalung, Tanjungpura, dan beberapa puluh lagi kerajaan-kerajan kecil di pulau-pulau sekitar Bumi Nusantara.

Beberapa tahun setelah runtuhnya Kadiri oleh Kerajaan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singhasari pada masa pemerintaham Prabu Jayawiçnuwardhana, banyaklah sahabatnya dari berbagai negeri. Beberapa di antaranya yaitu, Kerajaan Sunda di Bumi Jawa Barat dan Kerajaan Melayu Dharmmasraya di Bumi Sumatera.

Raja Melayu Dharmmaçraya kala itu yaitu Sri Trailokyaraja Maulibhuçana Warmmadéwa memperistri Putri Raja Syangka.

Dari perkawinannya mempunyai anak beberapa orang. Tiga orang diantaranya masing-masing yaitu yang tertua di kemudian hari menggantikan ayahnya menjadi raja dengan gelar Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa. Yang kedua perempuan, Dara Kencana namanya. Dan yang ketiga Dara Puspa namanya, serta masih ada beberapa lagi anak Raja Melayu ini.

Pada waktu Prabhu Kertanagara menjadi Rajamuda Singhasari, beliau memperistri Dara Kencana. Sedangkan Dara Puspa diperistri oleh Rajamuda Kerajaan Sunda yaitu Rakryan Saunggalah yaitu Sang Prabhu Ragasuci namanya.

Dari perkawinannya, Prabhu Kertanegara dengan Dara Kencana lahirlah beberapa orang anak. Dua orang di antaranya yaitu Dara Jingga namanya dan Dara Petak namanya.

Adapun dari perkawinan Dara Puspa dengan Rakryan Saunggalah Prabhu Ragasuci lahirlah beberapa orang anak, salah satu di antaranya yaitu sang Prabhu Citragandha Bhuwanaraja, kelak menggantikan mertuanya yaitu Prabhu Ragasuci putra dari Prabhu Ghuru Dharmmasiksa menjadi raja Sunda.

Sedangkan Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa Sumatera bagian utara dijadikan sahabat oleh Maharaja Cina. Padahal sesungguhnya ada keinginannya untuk mengalahkan dan menguasai Bumi Nusantara, menjadi raja segala raja.

Oleh sebab itu Maharaja Cina selamanya bersahabat dengan Kerajaan Sriwijaya, serta memberikan bantuan segala macam perlengkapan perang ketika Sultan Perlak melepaskan negaranya dari kekuasaan 20 Kerajaan Sriwijaya.

Sang Sultan Perlak berdamai dan mencari bantuan kepada Kerajaan Singhasari. Pada seribu seratus sembilan puluh tujuh (1197) Tahun Saka Raja Singhasari Sri Maharaja Kartanagara mempersiapkan bala tentaranya menuju ke Negeri Melayu dipimpin oleh Sang Kebo Anabrang sebagai Panglima Angkatan Laut dan Panglima Perang.

Bala tentara Singhasari berangkat dengan segala peralatan perang dan
perlengkapannya. Balatentara Singhasari yang berangkat ke seberang memiliki tujuan yang banyak, di antaranya yaitu ingin menjalin persahabatan dengan Kerajaan Melayu, Kerajaan Parlak, dan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau-pulau di Bumi Nusantara.

Selain itu keberangkatan Sang Kebo Anabrang ke Sumatera dengan membawa pulang permaisuri yaitu Dara Kencana, istri Sri Maharaja Kertanagara, karena sang permaisuri ingin tinggal di Negeri Melayu, yaitu negerinya.

Balatentara Singhasari dijadikan pemimpin bagi kerajaan-kerajaan yang takluk kepada Kerajaan Singhasari termasuk negara yang sudah menjadi sahabat dan meminta agar terus menjalin persahabatan dengan Sri Maharaja Kertanagara.

Sebagai sahabat mereka, angkatan laut Singhasari selalu berkeliling ke negeri-negeri seberang yaitu Sanghyang Hujung, Tanjungpura, termasuk Bakulapura, Makasar termasuk pulau-pulaunya, Ghurun, Seran, dan pulau-pulau di sekitarnya, Sunda di Bumi Jawa Barat, Ambun, Maloko, dan pulau-pulau di sekitarnya, dan banyak lagi yang lainnya.

Oleh karena itu, ketika Sultan Perlak diserang oleh balatentara Sriwijaya, balatentara Singhasari datang ke situ, melepaskan Kerajaan Perlak yang ada di Pulau Sumatera bagian utara. Akhirnya balatetara Sriwijaya melarikan diri karena kalah.

Maharaja Cina marah ketika mengetahui balatentara Singhasari unggul perangnya melawan Stiwijaya. Tetapi balatentara Cina belum sempat membalas serangan itu, karena di dalam negerinya juga banyak pemberontakan.

Kemudian setelah peristiwa tersebut putri Sri Maharaja Kertanagara dari permaisuri Dara Kencana yaitu Putri Dara Jingga dijadikan istri oleh sang Rajamuda Melayu Sri Wiswarupakumara putra Raja Melayu Dharmmaçraya Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa pada seribu dua ratus tiga (1203) Tahun Saka.

Sri Kertanagara diberi hadiah arca Amoghapāça dan surat dari Raja Melayu dengan beberapa orang mentri raja, ahli nujum, dan balatentara Singhasari. Sangat senanglah hati rakyat negeri Melayu, dirajai oleh Raja Melayu Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa.

AdapunTribhuwanaraja dengan Dara Kencana itu kakak beradik. Jadilah Sri Wiswarupakumara dengan istrinya yaitu Dara Jingga saudara satu kakek.

Tetapi setelah itu Kerajaan Singhasari kemudian menyerang Swarnabhumi, dan Kerajaan Sriwijaya sendiri tidak kuat menahan serangan dari bala tentara Singhasari. Bukankah Sri Kretanagara menjadi menantu Raja Melayu.

Sementara itu, setelah mengalahkan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra pada tahun 1290, Kerajaan Singhasari pun menjadi kerajaan terkuat di daerah itu.

Karena itulah Kerajaan Singhasari menjadi pemimpin Kerajaan Melayu. Sedangkan bala tentara Sriwijaya melarikan diri ke utara sampai China.

Kubilai Khan penguasa Kekaisaran Mongol dankaisar Dinasti Yuan, mengirim utusan ke Jawadwipa untuk meminta mereka tunduk di bawah kekuasaannya dan membayar upeti. Tetapi Men Shi atau Meng-qi (孟琪), selaku utusan yang dikirim ke Jawadwipa, tidak diterima dengan baik oleh Raja Singhasari.

Prabhu Sri Kertanagara, tidak bersedia tunduk kepada Mongol dan justru mengecap wajah sang utusan dengan besi panas seperti yang biasa dilakukan terhadap pencuri, memotong telinganya, dan mengusirnya secara kasar.

Kubilai Khan sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Pada tahun 1292, dia pun memerintahkan dikirimkannya ekspedisi untuk menghukum Kertanegara, yang dia sebut orang barbar. Dan serangan ini juga memiliki tujuan lain.

Menurut Kubilai khan sendiri, jika pasukan Mongol mampu mengalahkan Jawa, negara-negara lain yang ada di sekitarnya akan tunduk dengan sendirinya. Dengan begitu, Dinasti Yuan Mongol dapat menguasai jalur perdagangan laut Asia, karena posisi geografis Nusantara yang strategis dalam perdagangan.

Berdasarkan naskah Yuan shi, yang berisi sejarah Dinasti Yuan, 20.000-30.000 prajurit dikumpulkan dari Fujian, Jiangxi dan Huguang di Tiongkok selatan, bersama dengan 1.000 kapal serta bekal untuk satu tahun. Pemimpinnya adalah Shi-bi (orang Mongol), Ike Mese (orang Uyghur), dan Gaoxing (orang Tiongkok).

Kublai memilih pasukan dari Tiongkok Selatan, karena mereka memakai baju perang ringan. Baju perang ringan dianggap lebih cocok di Jawa, yang merupakan negara tropis, sementara unit berzirah berat tidak cocok, seperti yang dicatat oleh Khan sendiri.

Jumlah kepemilikan baju besi tentara Yuan yang baru hanya 20%, dan tentara dari Tiongkok Utara sedikit lebih dari itu. Mereka memiliki banyak busur dan perisai, dan mereka juga memiliki banyak penembak, para infanteri berbaju besi penjaga belakang mereka dipersenjatai dengan tombak dan kapak yang berat. Tentara Mongolia juga membawa kuda.

Sejarah Yuan juga menyebutkan penggunaan senjata bubuk mesiu, dalam bentuk meriam (Bahasa Tiongkok: Pao). Jenis kapal yang digunakan tidak disebutkan dalam Yuan shi, tetapi Worcester memperkirakan kapal jung Dinasti Yuan memiliki lebar 11 meter dan panjang lebih dari 30 m. Dengan perbandingan jumlah kapal dan jumlah prajurit, setiap kapal kemungkinan dapat membawa 20-30 orang.

Pasukan Yuan berangkat dari Quanzhou bagian selatan lalu menyusuri pesisir Dai Viet dan Champa untuk menuju sasaran utama mereka. Negara-negara kecil di Malaya dan Sumatra tunduk dan mengirim utusan kepada mereka, dan komandan Yuan meninggalkan beberapa darughachi di sana.

Diketahui bahwa pasukan Yuan sempat berhenti di Ko-lan (Biliton, sekarang Pulau Belitung) pada bulan Januari 1293 untuk merencanakan penyerangan mereka. Pada Februari 1293, Ike Mese dan salah seorang komandan bawahannya berangkat terlebih dahulu untuk membawa perintah Kaisar ke Jawa.

Pasukan utama lalu berlayar ke Karimunjawa, dan dari sana berlayar ke Tuban. Berdasarkan Kidung Panji-Wijayakrama, pasukan Yuan kemungkinan sempat menjarah desa Tuban dalam perjalanan mereka.

Setelah itu, para komandan memutuskan untuk membagi pasukan menjadi dua. Pasukan pertama akan turun ke darat, yang kedua akan mengikuti mereka menggunakan perahu.

Shi Bi berlayar ke muara Sedayu, dan dari sana pergi ke sungai kecil bernama Kali Mas (yang merupakan percabangan sungai Brantas).

Pasukan darat di bawah Gao Xing dan Ike Mese, yang terdiri dari kavaleri dan infantri, pergi ke Du-Bing-Zu. Tiga komandan berlayar menggunakan kapal cepat dari Sedayu ke jembatan terapung Majapahit dan kemudian bergabung dengan pasukan utama dalam perjalanan ke Kali Mas.

Ketika pasukan Yuan tiba di Jawadwipa, Raden Wijaya berusaha bersekutu dengan mereka untuk melawan Jayakatwang. Dia memberi pasukan Mongol peta daerah Kalang.

Berdasarkan, Yuan-shi, Raden Wijaya pada awalnya sudah berusaha menyerang Jayakatwang sendirian namun tidak berhasil, sampai kemudian dia mendengar tentang kedatangan pasukan Yuan. Raden Wijaya lalu meminta bantuan mereka. Sebagai balasannya, Raden Wijaya berjanji akan tunduk pada kekuasaan Yuan.

Pada tanggal 1 Maret, semua pasukan telah berkumpul di Kali Mas. Di hulu sungai terdapat istana raja Tumapel (Singhasari).

Sungai ini adalah jalan masuk ke Jawa, dan di sini mereka memutuskan untuk bertempur. Seorang menteri Jawa memblokir sungai dengan menggunakan perahu. Para komandan Yuan kemudian membuat perkemahan berbentuk bulan sabit di tepi sungai.

Mereka menginstruksikan pasukan air, kavaleri dan infantri untuk bergerak maju bersama, yang kemudian berhasil menakuti menteri Jawa. Sang menteri meninggalkan perahunya dan melarikan diri di malam hari. Lebih dari 100 perahu besar yang digunakan untuk memblokir sungai berhasil direbut oleh pasukan Yuan.

Setelah itu, sebagian besar tentara ditugaskan untuk menjaga muara Kali Mas, sementara pasukan utama bergerak maju. Utusan Raden Wijaya mengatakan bahwa raja Kediri telah mengejarnya ke Majapahit dan memohon pasukan Yuan untuk melindunginya.

Karena posisi tentara Kediri tidak dapat ditentukan, tentara Yuan kembali ke Kali Mas. Setelah mendengar informasi dari Ike Mese bahwa pasukan musuh akan tiba malam itu, tentara Yuan berangkat ke Majapahit.

Pada 7 Maret, pasukan Kediri tiba dari 3 arah untuk menyerang Wijaya. Pada pagi hari tanggal 8, Ike Mese memimpin pasukannya untuk menyerang musuh di barat daya, tetapi tidak dapat menemukan mereka.

Gao Xing bertempur melawan musuh di arah tenggara, akhirnya memaksa mereka melarikan diri ke pegunungan. Menjelang tengah hari, pasukan musuh datang dari tenggara. Gao Xing menyerang lagi dan berhasil mengalahkan mereka di sore hari.

Pada 15 Maret, pasukan dibagi menjadi 3 untuk menyerang Kediri, dan disepakati bahwa pada tanggal 19 mereka akan bertemu di Daha untuk memulai serangan setelah mendengarkan tembakan pao (meriam).

Pasukan pertama berlayar menyusuri sungai, pasukan kedua yang dipimpin oleh Ike Mese berjalan di tepi sungai bagian timur sementara pasukan ketiga yang dipimpin oleh Gao Xing berjalan di tepi sungai barat.

Tentara tiba di Daha pada 19 Maret. Di sana, pangeran Kediri mempertahankan kotanya dengan pasukannya. Pertempuran berlangsung dari pukul 6.00 hingga pukul 14.00. Setelah menyerang 3 kali, pasukan Kediri dapat dikalahkan dan melarikan diri.

Sementara pasukan Mongol dan Kediri sedang bertempur, pasukan Majapahit menyerang kota dari arah lain dan dengan cepat mengalahkan penjaganya. Istana Jayakatwang dijarah dan dibakar.

Beberapa ribu pasukan Kediri mencoba menyeberangi sungai dan tenggelam, sementara 5.000 tewas dalam pertempuran. Raja Jayakatwang mundur ke bentengnya, dan menemukan bahwa istananya telah terbakar.

Pasukan Mongol kemudian mengepung kota Daha dan meminta Jayakatwang menyerah. Pada sore hari, Jayakatwang menyatakan takluk kepada bangsa Mongol.

BELAJAR SEJARAH ~ KISAH EKSPANSI KERAJAAN KE ANNAM (KOALISI NUSANTARA HADAPI HEGEMONI CINA)

BELAJAR SEJARAH ~ KISAH EKSPANSI KERAJAAN KE ANNAM (KOALISI NUSANTARA HADAPI HEGEMONI CINA)

Keagungan kerajaan Medang yang didirikan oleh Prabu Sanjaya ternyata bukan sekadar isapan jempol belaka. Karena di dalam Riwayat Kelantan, yang disampaikan oleh Lontara Project.Com, disebutkan bahwa sekitar tahun 760 dan 762 Masehi, seorang duta dari kerajaan Annam yang bernama Ngo Sri Voung Ngan, sampai dua kali datang ke pusat kerajaan Medang yang berada di Jawa Tengah.

Ngo Sri Voung Ngan datang dari Giao Chi ibukota kerajaan Annam (sekarang menjadi kota Hanoi, Vietnam) menghadap ke Medang Bhumi (Kelantan). Dihadapan Sri Vijayandraraja Ia memohon bantuan tentara untuk membebaskan negri mereka karena selama berabad-abad Annam telah menjadi bagian dari provinsi sebelah selatan kekaisaran Dinasti Tang dan mengalami Chinaisasi dalam segi kebudayaannya.

Dihadapan raja Medang sang duta besar Annam itu meminta bantuan agar negaranya dibebaskan dari pendudukan Tiongkok. Raja Medangpun mengabulkan hal tersebut dan mengirimkan pasukan marinirnya secara besar-besaran pada sekitar tahun 767 Masehi.

Pasukan ini adalah gabungan dari armada Jawa, Melayu, dan Laos, dengan melibatkan 5.700 kapal perang. Dipimpin oleh Putra Sanjaya dati Jawa-Medang Sang Satiaki Satirta dari Sumatra-Sriwijaya dan Suwira Gading dari Ale Luwu Sulawesi.

Beberapa bulan sebelum keberangkatan, sejumlah pasukan dari Laos dan berbagai wilayah di Kepulauan Melayu lainnya turut pula menggabungkan diri dalam barisan.

Kemudian dikisahkan pula bagaimana 3.000 orang tentara menyamar sebagai pedagang dan berlayar menggunakan perahu perdagangan ke kota Giao Chi. Pada malam hari mereka keluar dari tempat persembunyian dan bersama dengan bangsa Yuwana menyerang tentara Cina.

Prajurit lainnya menyusul dengan berlayar di atas 5.700 kapal dari jenis Sambao dan Ke (baca: Kelulus, kapal yang juga digunakan Majapahit dengan panjang kurang lebih 50-69 m). Kapal perang jenis sambao itu mempunyai 40 layar yang dapat bergerak pantas mengikut perubahan angin.

Kapal-kapal mereka diibaratkan berlayar dalam formasi yang bentuknya bagaikan deretan pulau yang bergerak menuju ke Timur. Rombongan kapal tersebut menyeberangi Teluk Serendah Sekebun Bunga (Teluk Siam) terus menuju ke kota Giao Chi.

Disebutkan pula kehadiran prajurit bergajah dan berkuda yang muncul dari arah pegunungan menuju ke ibukota. Pertempuran berlangsung dengan dahsyat selama enam bulan.

Dikisahkan sewaktu seluruh armada laut Medang dan Nusantara mulai memasuki Kuala Sungai Merah (Song Ka), bangsa Yuwana yang dipimpin oleh Ngo Sivuong Ngan segera bertindak. Mereka memberontak di Ibukota Yuwana dan beberapa kota lain dalam wilayah Tonkin.

Berdasar riwayat tradisi Kelantan, pasukan angkatan laut tersebut kemudian dipecah menjadi dua pasukan di kuala Song Ka. Satu pasukan bergerak di darat dan berkendaraan gajah dan kuda serta berjalan kaki maju ke ibukota. Satu pasukan lagi tetap menaiki kapal dan bergerak cepat di sepanjang sungai maju ke Ibukota Ciao Chi.

Pertempuran hebat segera terjadi di sekitar benteng Ciao Chi dengan amat dahsyat. Dahsyatnya perang menyebabkan Gubernur Tehang Po Yi dari kota Kwan-Choo (Kanton sekarang) mengirim pasukan bantuan melalui daratan dalam wilayah Tonkin.

Sayangnya pasukan tersebut dihadang oleh pasukan Javadesa dan penduduk asli setempat yang juga membenci kekejaman penjajahan Cina. Karena itu pasukan bantuan Cina menjadi tidak sampai ke Ibu kota Giao Chi. Karena bala bantuan tidak datang, ibukota akhirnya jatuh setelah bertempur selama enam bulan, ketajaan Annam pun lepas dari penjajahan kejam Cina dimasa keka8saran dinasti Tang.

Dan berita penyerangan ini pun dimuat di dalam beberapa kronik penjelajah, seperti yang dicatat oleh Abu Zaid Hasan pada tahun 774 dan 787 Masehi. Penaklukkan Melayu dan Campa oleh Putra Sanjaya dengan bantuan Suwira Gading juga diabadikan dalam Carita Parahyangan, naskah Sunda Kuno dari abad ke-16.

Catatan: Bandingkan dengan perang Troya yang sangat terkenal itu, yang dianggap sebagai perang terbesar, ternyata jumlah armadanya tak sebanding dengan yang pernah dikirim oleh kerajaan Medang.

Menurut kisahnya Raja Agamemnon mengirimkan armada gabungan seluruh Yunani (32 kerajaan) untuk menyerang kerajaan Troya sebanyak 1227 kapal saja. Ini tidak ada apa-apanya dengan dahsyatnya jumlah armada tempur milik para leluhur Nusantara dulu.

Dan ini jelas merupakan parade besar yang mengerikan, karena itu dicatatkan bahwa formasinya bagaikan deretan pulau yang bergerak. Kapal-kapal itu mengangkut tidak hanya pasukan marinir, tetapi juga kuda, gajah dan berbagai keperluan logistik. Jadi bisa kita bayangkan ukuran kapal Medang yang digunakan pada masa itu.

Tentunya besar-besar dan berteknologi mutakhir pada masanya. Dan setelah menyeberangi Teluk Siam mereka lalu mendarat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pasukan ini kemudian muncul dari arah pegunungan dan langsung menyerang kota Giao Chi.

Jalannya pertempuran yang berlangsung selama 6 bulan untuk membuat Tiongkok akhirnya menyerah, menunjukkan bahwa militer yang ditempatkan oleh Dinasti Tang di Vietnam kala itu sangatlah besar sehingga tidak mudah untuk ditaklukkan.

Disisi lain bahwa pengiriman armada laut dalam jumlah yang sangat banyak itu menunjukkan bahwa teknologi marinir era Medang sudah cukup maju. Karena selain mengangkut pasukan tempur, maka sudah barang tentu juga telah mengangkut berbagai kebutuhan logistiknya yang membutuhkan persiapan yang matang dan koordinasi yang sulit.

Pengiriman pasukan marinir ini demikian memerlukan biaya besar. Dalam kisah Carita Parahyangan, Sanjaya dan pasukan marinirnya dicatat kemudian menganeksasi Cina. Sehingga Cina tidak lagi ekspansif dan kejam dengan wilayah disekelilingnya.

Menurut Fairbank, Cina kemudian lebih melakukan pendekatan proaktif dalam berurusan dengan negara Vietnam dan diplomatic dengan wilayah di Asia Tenggara.

Adapun rute pelayaran Sawerigading ke Ale Cina yang diambil dari buku Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo karya Prof. Nurhayati Rahman adalah sebagai berikut:

Sawerigading yang bergelar Opunna Wareq sudah terbiasa berlayar, menjelajahi berbagai macam negri berangkat dari Ale Luwuq dengan perahu raksasa Welenrenge beserta banyak perahu pengiring lainnya selama lima belas malam.

Rombongan Sawerigading bertemu dengan perompak Banynyaq Paguling. Tujuh hari kemudian rombongan mereka bertemu dengan La Tupu Soloq To Apunge, sembilan malam kemudian dengan La Tuppu Gellang (berperang selama 3 malam), tiga hari kemudian bertemu La Togeq Tana, sembilan malam kemudian bertemu La Tenripula, sembilan malam kemudian bertemu La Tenrinyiwiq To Malaka, dan puluhan malam kemudian bertemu dengan Settia Bonga Lompeng Ri Jawa Wolio (Buton).

Setelah berhasil mengalahkan seluruh musuhnya, tujuh malam kemudian Sawerigading dan rombongannya mendarat di negri Wewang Nriwuq, yang lokasinya berada di Teluk Mandar/Selat Makassar. Wewang Nriwuq merupakan salah satu dari trio kerajaan Manurung di muka bumi, dengan Tejjoq Risompa sebagai pemegang kedatuannya.

Tejjoq Risompa yang tiada lain ialah paman Sawerigading menyambut kemenakannya tersebut dengan senang hati. Sawerigading kemudian melanjutkan pelayaran hingga Ia bertemu dengan I La Pewajoq yang baik hati, sang penguasa Pao (Davao, Filipina Selatan).

Berdasarkan deskripsi I La Pewajoq, Ale Cina ternyata masih nun jauh di sana letaknya! Kerajaan tersebut diapit oleh negri Sabbang Mparu dan Baebunta. Sawerigading masih harus berlayar berpuluh malam lagi hingga bertemu samudera, berhadapan dengan “perempatan” yang terbentuk oleh belahan arus sungai di laut, hingga Ia menemukan sungai yang banyak ditumbuhi oleh pohon asana. Itulah Ale Cina.

Ada beberapa hal menarik yang terungkap melalui pelayaran Sawerigading.

Pertama; dari Luwu Ia berlayar ke selatan, lalu merubah haluannya (setelah melalui Selat Selayar) ke utara hingga akhirnya mendarat di Wewang Nriwuq (Teluk Mandar). Sebelum sampai di Barat (baca: Wewang Nriwuq) Ia sudah mengalahkan tujuh penguasa laut dari berbagai daerah yang berlayar di Teluk Bone (di antaranya bajak laut Jawa, Malaka, dan Buton).

Dari sana Ia mengarungi Selat Makassar menuju utara, sampai bertemu dengan kapal penguasa Davao di Laut Sulawesi. Perjumpaan dengan penguasa Davao yang letaknya di pulau Mindanao ini mengindikasikan bahwa Sawerigading melanjutkan pelayaranannya ke arah utara.

Kedua; setelah mendapatkan arahan mengenai lokasi Ale Cina, Sawerigading terus berlayar sampai menemukan daerah berbukit-bukit namun subur serta di dalamnya mengalir sungai-sungai dengan banyak pohon asana. Asana (Pterocarpus indicus) alias kayu narra merupakan sejenis pohon kayu yang endemik di kawasan hutan hujan tropis. Tumbuhan ini dapat ditemukan mulai dari Burma selatan, Kamboja, kepulauan Asia Tenggara, Pasifik barat, bahkan hingga Cina selatan. Daerah Annam (Indocina) sampai hari ini pun masih kaya dengan kayu yang kuat dan awet sebagai bahan furnitur ini.

Ketiga, perihal kondisi alam Annam. Berdasarkan data terbaru (2011) dari Index Mundi terkait geografi Vietnam, 40% wilayah negara ini terdiri atas perbukitan, 42% terdiri atas hutan tropis, dan sisanya adalah dataran rendah. Bagian utara negri ini (yang berbatasan dengan Cina) terdiri dari dataran tinggi dan delta Sungai Merah (Song Hong). Sungai Mekong yang terkenal itupun juga mengaliri bumi Vietnam, dari utara ke selatan. Ale Cina yang dialiri oleh tujuh sungai dan daratannya terdiri atas negri berbukit-bukit indah sempurna sekali untuk diletakkan di Annam. Lebar Sungai Merah di Vietnam amat sangat memungkinkan digunakan sebagai tempat pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi oleh berbagai macam pedagang dari mancanegara.

Logika arah pelayaran Sawerigading menuju barat-utara serta informasi mengenai spesies tumbuhan dan bentang alam Annam ternyata 90% cocok dengan deskripsi tentang Ale Cina di dalam naskah La Galigo!

SEJARAH PERDAGANGAN KERAJAAN MATARAM KUNO ~ KEKUASAAN MEDANG SAMPAI FILIPHINA

Kerajaan Matarām Kuna merupakan salah satu kerajaan yang mempunyai rentang waktu yang cukup panjang (3 abad). Nama Matarām Kuna muncul pertama kali pada masa pemerintahan raja Sañjaya yang memerintah sejak tahun 717 M atau permulaan abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-10, yaitu sampai dengan masa pemerintahan Rakai Sumba/ Paɳkaja Dyaḥ Wawa.

Matarām berkembang di Jawa Tengah dengan ibukotanya Mḍang di wilayah Poh Pitu. Kerajaan Matarām yang berpusat di Jawa Tengah mengalami masa kejayaan dibawah pemerintahan Raja Balituɳ. Pada saat itu, wilayah kekuasaannya terbentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Misalnya daerah Malang merupukan wilayah kekuasaan Matarām sewaktu masih di Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan Prasasti Saɳguran, 850 Śaka (=2 Agustus 928 M), yang ditemukan di Malang dan dibuat atas perintah Raja Dyaḥ Wawa.

Data yang dapat membantu kita dalam menjelaskan perdagangan masa Matarām Kuna adalah sumber-sumber tertulis yang berupa prasasti, karya sastra, maupun berita-berita dan catatan Cina dari masa tersebut, serta data relief dari candi-candi dan artefak yang sezaman.

Pusat kerajaan Matarām Kuna terletak di di Jawa Tengah dengan intinya sering disebut Bumi Mataram. Daerah ini dikelilingi oleh Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi – Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo, dan Sungai Bengawan Solo.

Itulah sebabnya daerah ini sangat subur sehingga mendorong masyarakat setempat membangun pertanian dengan membuka lahan-lahan pertanian dengan ditanami aneka tanaman pertanian seperti padi dan rempah.

Dalam prasasti Kayuwaṅi-Balituɳ abad 9-10 M, telah dikenal nama pejabat apkan, apekan, mapakkan, mapakan, mapkan, mapěkan, yaitu pejabat yang menangani hal-hal yang berhubungan dengan perdagangan/pasar.

Juga terdapat istilah abakul, adagang dan banyāga, yang berarti pedagang. Jan Wisseman Christie mengartikannya menjadi, Abakul (pedagang eceran), Adagang (pedagang besar, antar pulau, internasional) dan Banyāga (pedagang grosir).

Petunjuk mengenai kemungkinan adanya kelompok-kelompok pedagang dapat diketahui dari jenis-jenis barang yang mereka perdagangkan atau cara-caranya barang-barang dagangan tersebut diangkut.

Kelompok makanan dan bumbu-bumbuan atau komoditi di bidang pertanian terdiri dari bawang (bawang), bras (beras), garam/wuyah (garam), gula, inga (minyak), pipakan/kapulaga (jahe, tanaman jahe); wwahan/pucang sireh (buah-buahan terutama pinang), lada, kelapa, cabai, kemukus, kapas, kapulaga, mengkudu, kesumba dan bunga.

Yang sebagian juga disebutkan dalam berita Cina maupun teks Rāmāyaṇa, yaitu palawija seperti labu, ubi, talas atau keladi, beligo, kacan, jelai, jewawut, terong, dan cabai.

Dalam prasasti Pihak Kamalagī atau Kuburan Candi tahun 743 Śaka (831 M) menyebutkan sawah, lading, rawa dan kebun menjadi sīma dimana lahan tersebut tidak dikenakan pajak.

Adapun yang termasuk dalam kategori hewan adalah hewan besar yang terdiri dari kbo (kerbau), sapi, wdus (kambing), celeng (babi), unggas terutama andah (itik) dan telurnya.

Seperti yang tercatat dalam prasasti Muṇḍuan yang berangka tahun 728 Śaka (806 M) yang menyebutkan adanya penjualan hewan ternak dalam jumlah besar. Selain hewan darat, ikan juga menjadi salah satu komoditi perdagangan kategori hewan.

Dalam prasasti Paṅgumulan A, Rukam (829 Śaka/907 M), dituliskan juga berbagai jenis ikan baik ikan segar, maupun pja (ikan laut/asin), atau ikan yang sudah dikeringkan juga menjadi barang dagangan pada masa ini.

Termasuk golongan sandang adalah wasana (pakaian), amahang/kasumbha/pamaja(bahan pewarna), kapas, lawe (benang). Kategori perlengkapan umum adalah galuhan (batu permata), gangsa (perunggu), anganam (keranjang); labeh (kulit penyu), makacapuri (kotak sirih); mangawari (permata), masayang/tamwaga (peralatan tembaga), tambra (lempeng tembaga), timah, wsi (besi).

Barang-barang dagang golongan sandang ini dituliskan di prasasti Rukam, Wukajana dan Lintakan yang berangka tahun 841 Śaka (919 M).

Keterangan yang lebih lengkap mengenai komoditi ekspor maupun impor lebih banyak diperoleh dari berita-berita Cina, antara lain kain sutra, paying sutra dari Cina, pedang dari Timur Tengah dan India, nila, lilin batik, belanga besi berkaki tiga, piring dan mangkuk bervernis, keramik Cina terutama yang berwarna biru-putih, warangan, tikar pandan, merica, pala, kapur barus, gading, emas, perak dan tembaga.

Bukti bahwa masyarakat Matarām Kuna telah mengimpor kain adalah dengan ditemukannya sebutan pada prasasti-prasasti, diantaranya wḍihan bwat kliɳ putiḥ (wḍihan buatan Kling putih) pada prasasti Juruṅan 798 Śaka (876 M), kain bwat waitan (kain buatan Timur) dalam prasasti Taji tahun 823 Śaka (901 M), dan kain bwat lor (kain buatan Utara) dalam prasasti Sara ṅan tahun 851 Śaka (929 M)

Selain para penjual barang dagangan, dalam prasasti dan naskah banyak yang menyebutkan bahwa pada masa ini masyarakatnya juga ada yang menjual jasa yang disebut maṅilala drawya haji (abdi istana yang tidak memperoleh daerah lungguh sebagai imbalan jasanya, tetapi mendapatkan gaji berupa uang).

Maṅilala drawya haji memiliki tugas yang bermacam-macam, diantaranya para petugas pajak (wilaɳthāni wlaɳ wanua), dan para abdi dalem istana, antara lain pasukan pengawal istana (magalaḥ, mamanaḥ, magaṇdi), para pembuat perhiasan (maniga, maɳrumban, pamaṇikan), seniman dan seni wati seperti pesinden (widu, paṅiduɳ), dalang(mawayaɳ), penari topeng (maɳrakat, matapukan, manapal), pelawak (mabañol, mamirus), serta pemusik (mapaḍahi, maregaɳ, mabrekuk), pembuat benda-benda tanah liat (maɳdyun), pembuat gula (maɳgula), pembuat kapur (maɳhapῡ), pembuat arang (maɳharen), pembuat barang-barang anyaman (maɳañamañam), pembuat payung (magawai payuɳ wlῡ), pembuat upih (mopih), pembuat kisi(magawai kisi), pembuat rungki (maruɳki), pembuat kajang (magawai kajaɳ), tukang soga (maɳlākha), pembuat bahan cat warna merah (mañawrɳ /maṅubar), pembuat benang (maṅapus), pembuat tarub(matarub), pembuat jaring (manawaɳ), pembuat bubut (mamubut), pembuat sarang burung (manahab/mamisaṇḍuɳ), pembuat cat warna hitam (mañambul), pembuat pernis ? (mapaṅaṅan), pembuat jerat binatang (makalakala), pembuat minyak jarak (maɳluruɳ), pandai mas (paṇḍai mas), pandai besi (paṇḍai wsi), pandai tembaga (paṇḍai tamwaga), pandai perunggu (paṇḍai tamra), pandai dandang (paṇḍai daɳ ), pandai kawat (paṇḍai kawat), dan tukang kayu (uṇḍahagi).

Para pengrajin mengerjakan pekerjaan sesuai dengan keahliannya masing-masing dan sesuai dengan bahan baku yang dipakai seperti yang tertulis pada prasasti Saɳguran dari tahun 850 Śaka (928 M) yang dikeluarkan oleh Rakai Paɳkaja Dyaḥ Wawa, menyebutkan tentang peresmian sebuah desa atau sekelompok desa yang menghasilkan jenis produksi tertentu di daerah Manañjuɳ

Mengenai distribusi, meskipun hanya tersirat didalam prasasti tetapi dapat kita temukan penggambaran adanya aliran barang dagang tertentu, seperti adanya barang dagang hasil produksi dari daerah pantai yang dikonsumsi oleh masyarakat di pegunungan.

Hal tersebut tentu erat kaitannya dengan suatu jaringan transportasi yang memperlancar transaksi. Pada masa raja Balituɳ perdagangan mulai mendapat perhatian.

Jalur-jalur yang dipakai para pedagang ialah jalur darat, pedagang yang membawa dagangannya dalam jumah besar menggunakan pedati atau gerobak (padati, mapadati, magulunan), pedagang laki-laki yang dalam jumlah sedikit diangkut menggunakan kuda atau sapi (atitih) atau dibawa dengan pikulan (pinikul dagaɳnya), sedangkan pedagang wanita menggunakan bakul yang digendong di belakang dengan memakai kain gendongan.

Untuk jalur suangai, barang dagangan diangkut menggunakan perahu (maparahu). Jalur sungai mempunyai peranan dalam perdagangan. Perahu dipakai sebagai alat trasportasi disebutkan dalam prasasti Tlaɳ yang berangka tahun 825 Śaka (903 M).

Pada masa Raja Balituɳ aktivitas perhubungan dan perdagangan dikembangkan lewat Sungai Bengawan Solo. Pada Prasasti Wonogiri (903) yang dikeluarkan oleh Raja Balituɳ disebutkan bahwa raja memerintahkan untuk membuat pusat-pusat perdagangan dan penduduk disekitar kanan-kiri aliran Sungai Bengawan Solo yang menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.

Bengawan Solo adalah sungai yang berhulu di bukit sebelah selatan Surakarta yang tadinya hanya berupa sungai kecil yang semakin membesar karena adanya pertemuan dengan sungai-sungai lain.

Sungai ini melalui Sukowati Jagaraga, Madiun, Jipang, Blora, Tuban, Sedayu, dan bermuara di Gresik yang memungkinkan perahu kecil dan sedang mengarunginya sampai jauh ke pedalaman. Sebagai imbalan kepada penduduk desa di kanan-kiri sungai Bengawan Solo, raja memutuskan bahwa mereka dibebaskan dari pungutan pajak.

Selain itu ada juga prasasti Kaladi yang berangka tahun 831 Śaka (909 M) yang juga menjelaskan mengenai usaha pemerintah pada masa itu dalam membuat sarana trasportasi menggunakan sungai. Lancarya pengangkutan perdagangan melalui sungai tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Matarām Kuna.

Yang menakjubkan, Kerajaan Medang atau disebut juga Mataram Hindu ternyata sebuah kerajaan dengan wilayah pengaruhnya hingga ke Filipina. Bukti hai tersebut tertera dalam prasasti Keping Tembaga Laguna Filipina.

Prasasti Keping Tembaga Laguna atau Lempeng Tembaga Laguna ditemukan tahun 1989 di Laguna de Bay, Manila, Filipina. Adalah penambang pasir yang bekerja di sungai Lumbang di daerah Laguna, Filipina, menemukan gulungan tembaga dengan tulisan-tulisan yang aneh tertera di atasnya.

Penanggalan yang tertera menunjukkan tahun 822 Saka, atau 21 April, 900 M pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu

Prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuna meskipun banyak kata-kata dari bahasa Sanskerta, bahasa Jawa Kuna, dan bahasa Tagalog Kuna, serta ditulis dengan aksara Kawi.

Isi prasasti ini mengenai pernyataan pembebasan hutang emas terhadap seseorang bernama Namwaran. Di dalamnya juga menyebutkan sejumlah nama tempat di sekitar Filipina (Tondo, Pila, dan Pulilan), serta menyebut nama "Mdang" (kemungkinan besar Kerajaan Medang di Jawa), serta beberapa tempat yang belum bisa dipastikan seperti Dewata.

Prasasti ini menjadi petunjuk mengenai adanya pengaruh Kerajaan Medang di Pulau Luzon pada awal abad ke-10. Sekarang dokumen ini tersimpan di Museum Nasional Filipina.

Prasasti ini, bersama dengan penemuan lain yang diketemukan akhir-akhir ini di negara tersebut seperti Golden Tiara dari Butuan, tembikar dan artifak perhiasan emas dari abad ke-14 yang ditemukan di Cebu, merupakan hal yang sangat penting dalam upaya merevisi sejarah kuno Filipina (900–1521).

Isi prasasti tersebut adalah:

Swasti Shaka warsatita 822 Waisaka masa di(ng) jyotisa. Caturthi Krisnapaksa somawara sana tatkala Dayang Angkatan lawan dengan nya sanak barngaran si Bukah anak da dang Hwan Namwaran dibari waradana wi shuddhapattra ulih sang pamegat senapati di Tundun barja(di) dang Hwan Nayaka tuhan Pailah Jayadewa.
Di krama dang Hwan Namwaran dengan dang kayastha shuddha nu diparlappas hutang da walenda Kati 1 Suwarna 8 di hadapan dang Huwan Nayaka tuhan Puliran Kasumuran.
dang Hwan Nayaka tuhan Pailah barjadi ganashakti. Dang Hwan Nayaka tuhan Binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat Medang dari bhaktinda diparhulun sang pamegat.
Ya makanya sadanya anak cucu dang Hwan Namwaran shuddha ya kapawaris dihutang da dang Hwan Namwaran di sang pamegat 'Dewata.
Ini grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung lappas hutang da dang Hwa ...

Terjemahan bebas

"Swasti. Tahun Saka 822, bulan Waisakha, menurut penanggalan. Hari keempat setelah bulan mati, Senin. Di saat ini, Dayang Angkatan, dan saudaranya yang bernama si Bukah, anak-anak dari Sang Tuan Namwaran, diberikan sebuah dokumen pengampunan penuh dari Sang Pemegang Pimpinan di Tundun (Tondo sekarang), diwakili oleh Sang Tuan Nayaka dari Pailah (Pila sekarang), Jayadewa."

"Atas perintahnya, secara tertulis, Sang Tuan Namwaran telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari hutang-hutangnya sebanyak satu Katî dan delapan Suwarna di hadapan Sang Tuan Puliran Kasumuran di bawah petunjuk dari Sang Tuan Nayaka di Pailah."

"Oleh karena kesetiaannya dalam berbakti, Sang Tuan (Yang Terhormat) yang termasyhur dari Binwangan mengakui semua kerabat Namwaran yang masih hidup, yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata, yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang.
Ya, oleh sebab itu seluruh anak cucu Sang Tuan Namwaran sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan Namwaran kepada Sang penguasa Dewata. (Pernyataan) ini, dengan demikian, menjelaskan kepada siapa pun setelahnya, bahwa jika di masa depan ada orang yang mengatakan belum bebas hutangnya Sang Tuan ..."

Selain hal tersebut ternyata penduduk Matarām Kuna tidak hanya dikenal pandai bertani, tetapi juga pandai membuat beragam kerajinan kemudian dimasa pemerintahan Dyah Balituɳ pun kerajinan tangan mulai dikembangkan sehingga pusat-pusat perdagangan dikawasan kerajaan Matarām Kuna tidak hanya seputar dunia pertanian melainkan juga beragam tempat traksaksi jual beli kerajinan tangan seperti tembikar, giok, gerabah tidak saja terbuat dari tanah liat, batu tetapi kerajinan emas dan perak.

Beragam kerajinan awalnya dibuat untuk kalangan keraton Matarām Kuna perkembangannya kalangan elit dimasa lalu memiliki koleksi aneka kerajinan tembikar dan emas.

Pusat perdagangan yang dibuat Dyah Balituɳ telah meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan rakyat Matarām Kuna.

Perak adalah salah satu barang dagangan yang dibawa pedagang asing seperti pedagang Tiongkok, India dan negara lainnya sebagaimana tercatat dalam kronik Tiongkok yang diduga telah ada hubungan diplomatik terungkap dalam catatan Tiongkok Hsin Tsing Shu 618-906 dan sejarah Rajakula Sung 906-1279 tentang keadaan pulau Jawa saat itu.

Kemajuan ekonomi kerajaan Matarām Kuna terlihat dari mata uang logam terbuat dari emas atau perak dikenal dengan nama mata uang emas tahil yang diduga sebagai alat pembayaran sah mataram kuno kala itu.

Perdagangan yang dilakukan di pasar memiliki suatu sistem, dimana adanya organisasi yang saling terkait. Dalam sistem pasar pada masa Matarām Kuna terdapat beberapa komponen-komponen, yaitu riotasi, produksi, distribusi, transportasi dan transaksi, yang dimana semua komponen-komponen tersebut saling berkaitan satu sama lain dan saling ketergantungan.

Pada masyarakat Jawa Kuno dikenal konsep pañatur desa dan panatsa desa yang dimasa kemudian dikenal dengan konsep mañcapat dan mancalima, yaitu suatu desa induk dikelilingi oleh empat desa yang terletak di arah empat penjuru mata angin, atau dikelilingi oleh delapan desa di delapan penjuru mata angin.

Konsep tersebut merupakan tanda rasa kerukunan sebuah desa dengan keempat atau kedelapan desa tetangganya dan dikaitkan juga dengan sistem klasifikasi hari-hari pasar yang lima atau pancawara dengan mengatur rotasi hari-hari pasar pada desa-desa tertentu.

Hal ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti Paṅgumulan A yang berangka tahun 824 Śaka yang dikeluarkan oleh raja Balituɳ berisikan adanya sebuah kegiatan hari pasar yang mana para pedagangnya berasal dari desa yang sedang hari pasar dan desa-desa lainnya berdatangan membawa dagangannya ke pasar.

Ada juga prasasti Purworejo (900 M) yang menjelaskan tentang kegiatan perdagangan. Kegiatan di pasar ini tidak diadakan setiap hari melainkan bergilir, berdasarkan pada hari pasaran menurut kalender Jawa Kuno.

Pada hari Kliwon, pasar diadakan di pusat kota. Pada hari Manis atau Legi, pasar diadakan di desa bagian timur. Pada hari Paking (Pahing), pasar diadakan di desa sebelah selatan. Pada hari Pon, pasar diadakan di desa sebelah barat. Pada hari Wage, pasar diadakan di desa sebelah utara.

Pembangunan pusat-pusat perdagangan juga terus dikembangkan sebagai pusat transaksi jual beli barang dagangan yakni dengan membangun dan menetapkan desa dalam suatu wilayah sebagai desa perdikan yang dijelaskan oleh Dyah Balituɳ disejumlah prasasti penting salah satunya prasasti Ayam Teas yang disebutkan desa Ayam Teas dijadikan sebagai tanah perdikan dan sebagai tempat pedagang.

Prasasti Ayam Teas yang berangka tahun 822 Śaka atau tahun 900 M, disebutkan desa Ayam Teas yang dijadikan sebagai tanah perdikan sebagai tempat pedagang.

Tempat tersebut tidak diperbolehkan dilewati oleh para petugas pajak, dijadikan sīma. Dan hanya 3 pejabat dari setiap daerah bebas yang diperbolehkan membawa secara bebas 20 ekor kerbau, 40 ekor sapi, 80 ekor kambing dan telur satu kandang dalam kendaraan.

Dengan demikian jelaslah bahwa pada masa kekuasaan Dyah Balituɳ selain pertanian dengan sistem irigasi, tata niaga, peternakan, kerajinan dan perpajakan juga sudah berjalan secara teratur.

Prasasti lain yang menjelaskan tentang desa perdikan yakni prasasti Mantyasih 907 ditemukan dikampung Mateseh, Magelang Utara berisi tentang desa Mantyasih yang ditetapkan Dyah Balituɳ sebagai daerah bebas pajak Prasasti ini masih berdiri megah di kampung Mateseh berupa lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan dan prasasti Mantyasih juga menjelaskan tentang keberadaan gunung Susundara dan Wukir Sumbing.

Adapun peraturan lain adalah peraturan yang berkaitan dengan pembayaran pajak. Pajak yang dikenakan kepada para pedagang tidak diketahui jelas berapa jumlahnya, karena di dalam prasasti hanya dituliskan jumlah maksimal barang-barang yang boleh di perdagangkan.

Jika jumlah barang dagangan lebih dari yang ditentukan maka sisanya akan dikenakan pajak, contohnya adalah peraturan pajak yang tertulis di prasasti Liṅgasuntan yang berangka tahun 851 Śaka (929 M), yaitu:

(=semua pedagang yang ada di [daerah yang dijadikan] sīma dibatasi jumlahnya, yang tidak dikenakan pajak [adalah] tiga tuhān untuk semua pedagang. Jika pedagang kerbau batasnya 30 [ekor], sapi [batasnya] 40 [ekor], kambing [batasnya] 80 [ekor], itik [batasnya] satu wantayan, [brang-barang yang di angkut] pedati [batasnya] tiga pasang, pembuat karah [batasannya] tiga lumpaɳ, [barang-barang yang diangkut oleh] kuda [batasannya] satu kulit, paṇḍai [logam, batasannya] tiga ububan, tukang kayu [batasannya] satu tuhān, paḍahi [batasannya] tiga taṅkilan, pemintal kain [batasannya] empat pemintal, [barang-barang yang diangkut] perahu [batasannya] satu perahu dengan tiga tiang tanpa geladak. Jika dipikul dagangannya seperti pakaian, barang-barang tembaga, kotak sirih, pedagang kapas, mengkudu, [barang-barang dari] besi, tembaga, [dan] perunggu, timah, garam, paḍat, minyak, beras, gula, pamaja, bsar, kasumba, [dan] segala macam jenis barang-barang yang dijual [dengan] dipikul [batasnya] lima bantalan dalam satu tuhān.

Hanya pedagang-pedagang pikulan di dalam sīma yang demikian yang tidak kena oleh maṅilala drabya haji yang berlainan setiap desa. Jika melebihi dari apa yang ditetapkan [maka] selebihnya [untuk] sodhara haji tanpa kecuali.

Dari Prasasti Warudu Kidul diperoleh informasi adanya sekumpulan orang asing yang berdiam di Matarām Kuna. Mereka mempunyai status yang berbeda dengan penduduk pribumi. Mereka membayar pajak yang berbeda yang tentunya lebih mahal daripada rakyat pribumi Matarām.

Kemungkinan besar mereka itu adalah para saudagar dari luar negeri. Namun, sumber-sumber lokal tidak memperinci lebih lanjut tentang orang-orang asing ini. Kemungkinan besar mereka adalah kaum migran dari Cina.

Berita Cina menyebutkan adanya dua bentuk transaksi masa Matarām Kuna, yaitu barter dan menggunakan mata uang sebagai alat tukar. Mata uang biasanya hanya digunakan pada saat membeli tanah atau barang-barang berharga saja karena nilai mata uang sangat besar, sedangkan untuk membeli sesuatu yang murah hanya dilakukan dengan barter.

Mata uang pada masa Matarām Kuna adalah mata uang pertama yang ada di Indonesia, dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi.

Berita dinasti Song menyebutkan bahwa penduduk Jawa pada mesa itu memakai potongan-potongan emas dan perak yang menjad alat tukar, sedangkan Chau Ju Kua menyebutkan mata uang yang dipakai dibuat dari campuran perak, tembaga dan timah yang dipotong seperti dadu dan diberi cap. Koin atau mata uang yang terbuat dari emas berbentuk kecil seperti kotak.

60 biji mata uang ini bernilai 1 talih emas, dan 32 biji sama dengan ½ talih. Mata uang ini dikenal dengan uang Jawa (she-p’o-kin), sedangkan berdasarkan data prasasti satuan uang emas itu disebut dengan istilah kāti, suwarṇa, māsa dan kupaɳ. Sedangkan uang perak dikenal dengan sebutan kāti, dhārana, māsa dan kupaɳ Satu kāti sama dengan 20 dhārana atau 20 suwarṇa atau satu talih sama dengan 16 māsa dan 1 māsa sama dengan 4 kupaɳ. Pada mata uang perak dikenal juga istilah atak yang nilainya sama dengan 2 kupaɳ atau ½ māsa, jadi 1 māsa sama dengan 4 kupaɳ.

Uang emas pada bagian depannya terdapat huruf devanāgarī “ta” singkatan dari tahil. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Māsa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “mā”, singkatan dari māsa atau “ku”, singkatan dari kupaɳ, dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”. Bentuk kupaɳ lebih cekung dai pada māsa.

Koin-koin atau mata uang tersebut, mempunyai berat yang sama, yaitu māsa beratnya 2,4-2,5 gram dengan diameter 12-15 mm (sama dengan 2 atak atau 4 kupaɳ), atak beratnya 1-1,2 gram (sama dengan ½ māsa) dan satu kupaɳ yang beratnya 0,5-0,7 gram (sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak).

Berita Cina maupun teks Rāmāyaṇa yang menjelaskan mengenai komoditi atau makanan dan bumbu-bumbuan yang diperdagangkan pada masa Mataram Kuna.

Perak adalah salah satu barang dagangan yang dibawa pedagang asing seperti pedagang Tiongkok, India dan negara lainnya sebagaimana tercatat dalam kronik Tiongkok yang diduga telah ada hubungan diplomatik terungkap dalam catatan Tiongkok Hsin Tsing Shu 618-906 dan sejarah Rajakula Sung 906-1279 tentang keadaan pulau Jawa saat itu.

Kemajuan ekonomi kerajaan Matarām Kuna terlihat dari mata uang logam terbuat dari emas atau perak dikenal dengan nama mata uang emas tahil yang diduga sebagai alat pembayaran sah Mataram Kuno kala itu.

Berita Cina menyebutkan adanya dua bentuk transaksi masa Matarām Kuna, yaitu barter dan menggunakan mata uang sebagai alat tukar. Berita dinasti Song menyebutkan bahwa penduduk Jawa pada masa itu memakai potongan-potongan emas dan perak yang menjad alat tukar.

Berita Chau Ju Kua menyebutkan mata uang yang dipakai dibuat dari campuran perak, tembaga dan timah yang dipotong seperti dadu dan diberi cap.

Referensi

1. Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar di Jawa Mesa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi. Bandung : PT. Kiblat Buku Utama

2. Jones, Barrett M. Antoinette. 1984. Early Tenth Century Java From The Inscriptons. Dodrecht-Holland : Foris Publication

3. Sumadio, bambang (ed.). 1984. Sejarah Nasonal Indonesia II. Jakarta : P.N. Balai Pustaka

4. Boechari. 2012. Melacak Jejak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

5. Wheatlet, Paul. 1959. Geographical Notes on some Commodities involved in Sung Martme Trade, dalam JMBRAS, vol. 32. Singapore

6. Y, Ninie Soesanti dan Irmawati M Johan. 1992/1993. Laporan Penelitian Mata Uang Kuna di Indonesia Sebuah TInjauan Sejarah Ekonomi Abad 9-17 Masehi. Depok : Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.

7. Mahanizar. 1988. Upacara Penetapan Sima Pada Mesa Rakai Kayuwangi Dyah LOkapala dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Skripsi"

8. Prasasti AYAM TEAS III ( 822 Ś = 900 M)" BPCB Jawa Tengah kemdibud.go.idDiakses 11 Mei 2019.

9. Prasasti Keping Tembaga Laguna, Filiphina.

Diambil dari karya Shofa Nurhidayati dariacademia.edu yang penulis sadur. Dengan judul "Epigrafi Indonesia Kuno “Perdagangan Masa Mataram Jawa Tengah Abad 8 – 10 M”, kita ungkap selengkapnya.

MENGENAL LIMA GUGUS KAPAL PERANG KERAJAAN MAJAPAHIT ~ KOMPILASITUTORIAL.COM

Mengenal 5 Gugus Kapal Perang Majapahit

Di zaman keemasan kerajaan Majapahit pada abad XIII masa Prabu Hayam Wuruk ada dua tokoh militer jenius, yakni Mahapatih Gajahmada dan Laksamana Mpu Nala. Laksamana Mpu Nala sebagai Panglima Angkatan Laut Majapahit menempatkan puluhan kapal perang untuk menjaga lima titik penting perairan Nusantara.

Armada gugus pertama bertugas di sebelah barat Sumatera sampai ke selat Sunda sebagai gugus kapal perang penjaga Samudera Hindia di bawah pimpinan Laksamana yang berasal dari Jawa Tengah. Armada gugus kedua kapal perang penjaga Laut Kidul atau sebelah selatan Jawa yang berpusat di daerah Blambangan di bawah pimpinan seorang laksamana putra Bali.

Armada gugus ketiga bertugas menjaga perairan Selat Makassar dan wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera di bawah pimpinan seorang laksamana putra Makassar. Armada gugus keempat menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna di bawah pimpinan seorang laksamana dari Jawa Barat.

Terakhir adalah armada gugus kelima menjaga Laut Jawa hingga ke arah timur sampai kepulauan rempah-rempah Maluku. Armada Jawa itu mengibarkan bendera Majapahit ditambah lagi bendera emas simbol istana Majapahit biasanya dipimpin seorang laksamana berasal dari Jawa Timur.

Setiap armada gugus kapal perang terdapat kapal bendera tempat kedudukan pimpinan komando tertinggi bagi semua kapal penyerang, kapal perbekalan, dan pelindung kapal bendera.

Dari kelima armada Majapahit itu, beban terberat ialah pada armada keempat yang bertugas menjaga perairan Selat Malaka, Kepulauan Natuna dan Laut Cina Selatan yang penuh perompak yang berpangkalan di sekitar wilayah Campa, Vietnam, dan Tiongkok.

Armada keempat yang menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna itu biasanya dibantu armada pertama penjaga Samudera Hindia jika perompak melarikan diri ke barat laut menyusuri Selat Malaka maka armada pertama mencegatnya dari utara selat Malaka.

Begitu pula Armada kedua di Laut Selatan biasanya membantu Armada Laut Jawa dalam menjaga keamanan kapal-kapal dagang pembawa rempah-rempah yang melalui Selat Sunda yang lebih aman menuju India dan Timur Tengah.

Tugas lain armada Laut Selatan adalah menjaga Selat Bali dan perairan selatan Nusa Tenggara, bahkan di sebelah selatan pulau Bali terdapat galangan kapal-kapal Majapahit yang cukup besar.

Armada ketiga bertugas menjaga kapal penyusup dari wilayah Mindanao, Filipina, sekaligus menjaga kepulauan rempah-rempah Maluku jika kekuatan armada Laut Jawa sedang dipusatkan di perairan Jawa untuk mengawal Sang Prabu Hayam Wuruk beranjangsana ke wilayah pesisir timur Jawa.

Armada Ketiga Pasukan Laut Majapahit berpangkalan di Banjar Kalimantan Selatan dan di Sulawesi Selatan. Kedua Wilayah Bandar bawahan Majapahit inilah yang memiliki pertahanan paling kuat di seantero Nusantara.

Komandan Armada Laut Ketiga memiliki strategi pertahanan istimewa: Gugus-gugus Kapal perang Majapahit disebar di kedua sisi sepanjang Selat Makassar, maka bisa muncul dan bersembunyi di sepanjang pesisir Timur Kalimantan dan pesisir Barat Pulau Sulawesi.

Tugas daripada Armada pangkalan Sulawesi ialah menutup jalur masuk bagian Selatan selat, dan tugas Armada pangkalan Kalimantan menutup jalur masuk bagian Utara Selat Makasar.

Maka tidak heran bila wilayah Bandar Majapahit yang paling “Basah” alias mudah terjadi praktek suap berada di sini, di sisi Timur Kalimantan dan sisi Barat Sulawesi.

Telah menjadi rahasia umum para Panglima Armada Ketiga sering bertindak bagai raja diraja dengan memungut upeti dimana sebagian kecil disetor ke Majapahit dan sebagian besar demi kepentingan sendiri.

Bahkan Komandan Armada Laut Ketiga jika merasa perlu dengan mudah menghalau patroli Armada Keempat yang muncul dari Utara Selat Makasar dan patroli Armada Jawa yang muncul dari Selatan Selat Makasar.

Armada Jawa adalah kekuatan yang terbesar dari armada gugus kapal perang Majapahit karena tugasnya paling berat menjaga pusat kerajaan istana Majapahit. Armada itu sekaligus menguasai jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah Maluku yang dikuasai langsung pemerintah pusat Majapahit.

Setiap kapal perang Majapahit bersenjatakan meriam Jawa yang disebut cetbang Majapahit. Pandai besi yang mengecor meriam itu berada di Blambangan.

Cetbang Majapahit adalah karya penemuan Mahapatih Gajahmada yang konon pernah diasuh tentara Mongol atau Tartar yang menyerang kerajaan Singosari dengan kekuatan 1.000 kapal.

Semua jenis kapal perang Majapahit, mulai kapal perbekalan hingga kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang laksamana laut yang andal.

Laksamana Nala menciptakan kapal-kapal dari sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di sebuah pulau yang dirahasiakan. Pohon raksasa dan cocok untuk dibuat kapal itulah yang membuat kapal-kapal Majapahit cukup besar ukurannya di masa itu.

Setelah Gajahmada dan Mpu Nala wafat, kekuatan Majapahit pun berangsur lemah, apalagi tatkala terjadi Perang Paregreg, kapal-kapal Majapahit saling serang satu sama lain dan kehancuran pun tak terelakkan lagi bagi seluruh armada.

Setelah Majapahit lemah, hanya tersisa armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah. Kemudian datang bangsa kulit putih yang tujuan utamanya ialah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah, tidak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit.

Kapal asing itu bersenjata lebih unggul meriam yang bisa memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak lebih jauh daripada kemampuan jarak tembak cetbang Majapahit.

TERAPI YANG COCOK UNTUK KANKER PAYUDARA DAN CARA MENERIMA DIAGNOSA KANKER PAYUDARA

Kompilasitutorial.com ~ Cara menerima diagnosa kanker payudara tidaklah mudah, namun bagaimanapun anda harus menerimanya. Di bawa ini akan kami berikan beberapa tip untuk menerima diagnosa tersebut agar anda mudah untuk mengobati kanker tersebut dan lekas sembuh. 

Beberapa tips berikut bisa membantu Anda untuk menerima diagnosis dengan lebih bijaksana:
1. Jangan panik
Sisihkan waktu untuk diri Anda, agar memiliki kesempatan untuk memahami diagnosis dokter, mengerti jenis kanker yang Anda alami, memikirkan tindakan apa yang Anda lakukan selanjutnya dan bagaimana Anda akan menghadapinya. Bukalah jalur komunikasi dua arah dengan Dokter Anda. Komunikasi yang baik antara pasien dengan dokternya dapat membantu mencapai hasil optimal pengobatan kanker payudara.
3. Milikilah seorang “Breast Friend”
Breast Friend akan membantu menenangkan emosi Anda selama proses pengobatan tersebut berjalan, dan akan membantu Anda menanyakan hal-hal yang penting kepada dokter.
4. Kumpulkan semua informasi jika perlu dapatkan juga info dari situs kanker payudara di internet atau buku-buku.
5. Kumpulkan informasi dari dokter Anda dan informasikan juga kepada teman-teman terdekat dan keluarga agar mereka bisa membantu Anda memahami kondisi yang sedang dialami.
6. Kumpulkan semua informasi mengenai kanker payudara dalam satu file.
7. Bila perlu, bergabunglah dengan kelompok pendukung pasien

Sama seperti jenis kanker lainnya, kanker payudara merupakan penyakit yang sangat kompleks. Jenisnya berbeda-beda, berbagai proses yang berbeda bisa memicu pertumbuhannya. Seperti yang telah disebutkan, kanker payudara dengan HER2 positif terbukti lebih ganas daripada yang lain.
Jenis pengobatan tidak hanya tergantung pada jenis kanker payudara yang diderita, tetapi juga oleh faktor-faktor berikut:
• Ukuran tumor di payudara
• Letak tumor dan apakah tumor telah menyebar ke jaringan disekelilingnya atau ke organ-organ tubuh lainnya 

Pilihan terapi yang bisa di lakukan:
-Tahap pertama pengobatan kanker payudara adalah pengambilan sel-sel kanker. Prosedur yang dilakukan pada pasien kanker payudara ini tergantung pada stadium penyakit, jenis tumor, umur
dan kondisi pasien.Untuk meningkatkan hasil terapi, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan (adjuvan) seperti radiasi, hormon, kemoterapi atau imunoterapi.

-Terapi hormon bekerja melawan kanker payudara yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh reseptor hormon yang positif atau tumor dengan status ER (estrogen) atau PR (progesteron) positif pada pemeriksaan jaringan patologi anatomi.Terapi hormonal tidak efektif jika dipakai pada jenis kanker payudara yang pertumbuhannya tidak dipengaruhi oleh reseptor hormon.

-Kemoterapi adalah pemberian obat untuk membunuh sel-sel kanker, diberikan dalam bentuk infus atau dalam bentuk oral (tablet). Kemoterapi biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi agar lebih banyak sel kanker yang dapat dibunuh melalui berbagai jalur yang berbeda.Capecitabine adalah tablet yang bekerja menyerang sel kanker saja tanpa menimbulkan ketidaknyamanan dan bahaya seperti pada kemoterapi infus konvensional.

-Radiasi adalah pengobatan dengan sinar-X yang berintensitas tinggi dan berfungsi untuk membunuh sel kanker. Radiasi biasanya dilakukan setelah pembedahan, untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker yang masih ada. Radiasi bisa mengurangi risiko kekambuhan hingga 70%.

-Terapi fokus sasaran (targeted theraphy) adalah jenis pengobatan yang menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker dengan cara menghambat molekul atau protein tertentu yang ikut serta dalam proses perubahan sel normal menjadi sel kanker yang ganas.Terapi fokus sasaran lebih efektif dari terapi lainnya dan tidak berbahaya bagi sel normal.

Jenis-jenis terapi fokus sasaran adalah:
• Terapi Antibodi Monoklonal 
Antibodi monoklonal adalah substansi yang diproduksi laboratorium yang akan mengenal dan mengikat suatu target spesifik (seperti misalnya protein) pada permukaan sel kanker.

• Anti-Angiogenesis
Terapi fokus sasaran lainnya yang kerap digunakan dalam penatalaksanaan kanker payudara adalah terapi anti-angiogenesis yang merupakan pendekatan baru untuk terapi kanker metastatik
(sudah menyebar).