BELAJAR SEJARAH ~ KISAH EKSPANSI KERAJAAN KE ANNAM (KOALISI NUSANTARA HADAPI HEGEMONI CINA)

BELAJAR SEJARAH ~ KISAH EKSPANSI KERAJAAN KE ANNAM (KOALISI NUSANTARA HADAPI HEGEMONI CINA)

Keagungan kerajaan Medang yang didirikan oleh Prabu Sanjaya ternyata bukan sekadar isapan jempol belaka. Karena di dalam Riwayat Kelantan, yang disampaikan oleh Lontara Project.Com, disebutkan bahwa sekitar tahun 760 dan 762 Masehi, seorang duta dari kerajaan Annam yang bernama Ngo Sri Voung Ngan, sampai dua kali datang ke pusat kerajaan Medang yang berada di Jawa Tengah.

Ngo Sri Voung Ngan datang dari Giao Chi ibukota kerajaan Annam (sekarang menjadi kota Hanoi, Vietnam) menghadap ke Medang Bhumi (Kelantan). Dihadapan Sri Vijayandraraja Ia memohon bantuan tentara untuk membebaskan negri mereka karena selama berabad-abad Annam telah menjadi bagian dari provinsi sebelah selatan kekaisaran Dinasti Tang dan mengalami Chinaisasi dalam segi kebudayaannya.

Dihadapan raja Medang sang duta besar Annam itu meminta bantuan agar negaranya dibebaskan dari pendudukan Tiongkok. Raja Medangpun mengabulkan hal tersebut dan mengirimkan pasukan marinirnya secara besar-besaran pada sekitar tahun 767 Masehi.

Pasukan ini adalah gabungan dari armada Jawa, Melayu, dan Laos, dengan melibatkan 5.700 kapal perang. Dipimpin oleh Putra Sanjaya dati Jawa-Medang Sang Satiaki Satirta dari Sumatra-Sriwijaya dan Suwira Gading dari Ale Luwu Sulawesi.

Beberapa bulan sebelum keberangkatan, sejumlah pasukan dari Laos dan berbagai wilayah di Kepulauan Melayu lainnya turut pula menggabungkan diri dalam barisan.

Kemudian dikisahkan pula bagaimana 3.000 orang tentara menyamar sebagai pedagang dan berlayar menggunakan perahu perdagangan ke kota Giao Chi. Pada malam hari mereka keluar dari tempat persembunyian dan bersama dengan bangsa Yuwana menyerang tentara Cina.

Prajurit lainnya menyusul dengan berlayar di atas 5.700 kapal dari jenis Sambao dan Ke (baca: Kelulus, kapal yang juga digunakan Majapahit dengan panjang kurang lebih 50-69 m). Kapal perang jenis sambao itu mempunyai 40 layar yang dapat bergerak pantas mengikut perubahan angin.

Kapal-kapal mereka diibaratkan berlayar dalam formasi yang bentuknya bagaikan deretan pulau yang bergerak menuju ke Timur. Rombongan kapal tersebut menyeberangi Teluk Serendah Sekebun Bunga (Teluk Siam) terus menuju ke kota Giao Chi.

Disebutkan pula kehadiran prajurit bergajah dan berkuda yang muncul dari arah pegunungan menuju ke ibukota. Pertempuran berlangsung dengan dahsyat selama enam bulan.

Dikisahkan sewaktu seluruh armada laut Medang dan Nusantara mulai memasuki Kuala Sungai Merah (Song Ka), bangsa Yuwana yang dipimpin oleh Ngo Sivuong Ngan segera bertindak. Mereka memberontak di Ibukota Yuwana dan beberapa kota lain dalam wilayah Tonkin.

Berdasar riwayat tradisi Kelantan, pasukan angkatan laut tersebut kemudian dipecah menjadi dua pasukan di kuala Song Ka. Satu pasukan bergerak di darat dan berkendaraan gajah dan kuda serta berjalan kaki maju ke ibukota. Satu pasukan lagi tetap menaiki kapal dan bergerak cepat di sepanjang sungai maju ke Ibukota Ciao Chi.

Pertempuran hebat segera terjadi di sekitar benteng Ciao Chi dengan amat dahsyat. Dahsyatnya perang menyebabkan Gubernur Tehang Po Yi dari kota Kwan-Choo (Kanton sekarang) mengirim pasukan bantuan melalui daratan dalam wilayah Tonkin.

Sayangnya pasukan tersebut dihadang oleh pasukan Javadesa dan penduduk asli setempat yang juga membenci kekejaman penjajahan Cina. Karena itu pasukan bantuan Cina menjadi tidak sampai ke Ibu kota Giao Chi. Karena bala bantuan tidak datang, ibukota akhirnya jatuh setelah bertempur selama enam bulan, ketajaan Annam pun lepas dari penjajahan kejam Cina dimasa keka8saran dinasti Tang.

Dan berita penyerangan ini pun dimuat di dalam beberapa kronik penjelajah, seperti yang dicatat oleh Abu Zaid Hasan pada tahun 774 dan 787 Masehi. Penaklukkan Melayu dan Campa oleh Putra Sanjaya dengan bantuan Suwira Gading juga diabadikan dalam Carita Parahyangan, naskah Sunda Kuno dari abad ke-16.

Catatan: Bandingkan dengan perang Troya yang sangat terkenal itu, yang dianggap sebagai perang terbesar, ternyata jumlah armadanya tak sebanding dengan yang pernah dikirim oleh kerajaan Medang.

Menurut kisahnya Raja Agamemnon mengirimkan armada gabungan seluruh Yunani (32 kerajaan) untuk menyerang kerajaan Troya sebanyak 1227 kapal saja. Ini tidak ada apa-apanya dengan dahsyatnya jumlah armada tempur milik para leluhur Nusantara dulu.

Dan ini jelas merupakan parade besar yang mengerikan, karena itu dicatatkan bahwa formasinya bagaikan deretan pulau yang bergerak. Kapal-kapal itu mengangkut tidak hanya pasukan marinir, tetapi juga kuda, gajah dan berbagai keperluan logistik. Jadi bisa kita bayangkan ukuran kapal Medang yang digunakan pada masa itu.

Tentunya besar-besar dan berteknologi mutakhir pada masanya. Dan setelah menyeberangi Teluk Siam mereka lalu mendarat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pasukan ini kemudian muncul dari arah pegunungan dan langsung menyerang kota Giao Chi.

Jalannya pertempuran yang berlangsung selama 6 bulan untuk membuat Tiongkok akhirnya menyerah, menunjukkan bahwa militer yang ditempatkan oleh Dinasti Tang di Vietnam kala itu sangatlah besar sehingga tidak mudah untuk ditaklukkan.

Disisi lain bahwa pengiriman armada laut dalam jumlah yang sangat banyak itu menunjukkan bahwa teknologi marinir era Medang sudah cukup maju. Karena selain mengangkut pasukan tempur, maka sudah barang tentu juga telah mengangkut berbagai kebutuhan logistiknya yang membutuhkan persiapan yang matang dan koordinasi yang sulit.

Pengiriman pasukan marinir ini demikian memerlukan biaya besar. Dalam kisah Carita Parahyangan, Sanjaya dan pasukan marinirnya dicatat kemudian menganeksasi Cina. Sehingga Cina tidak lagi ekspansif dan kejam dengan wilayah disekelilingnya.

Menurut Fairbank, Cina kemudian lebih melakukan pendekatan proaktif dalam berurusan dengan negara Vietnam dan diplomatic dengan wilayah di Asia Tenggara.

Adapun rute pelayaran Sawerigading ke Ale Cina yang diambil dari buku Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo karya Prof. Nurhayati Rahman adalah sebagai berikut:

Sawerigading yang bergelar Opunna Wareq sudah terbiasa berlayar, menjelajahi berbagai macam negri berangkat dari Ale Luwuq dengan perahu raksasa Welenrenge beserta banyak perahu pengiring lainnya selama lima belas malam.

Rombongan Sawerigading bertemu dengan perompak Banynyaq Paguling. Tujuh hari kemudian rombongan mereka bertemu dengan La Tupu Soloq To Apunge, sembilan malam kemudian dengan La Tuppu Gellang (berperang selama 3 malam), tiga hari kemudian bertemu La Togeq Tana, sembilan malam kemudian bertemu La Tenripula, sembilan malam kemudian bertemu La Tenrinyiwiq To Malaka, dan puluhan malam kemudian bertemu dengan Settia Bonga Lompeng Ri Jawa Wolio (Buton).

Setelah berhasil mengalahkan seluruh musuhnya, tujuh malam kemudian Sawerigading dan rombongannya mendarat di negri Wewang Nriwuq, yang lokasinya berada di Teluk Mandar/Selat Makassar. Wewang Nriwuq merupakan salah satu dari trio kerajaan Manurung di muka bumi, dengan Tejjoq Risompa sebagai pemegang kedatuannya.

Tejjoq Risompa yang tiada lain ialah paman Sawerigading menyambut kemenakannya tersebut dengan senang hati. Sawerigading kemudian melanjutkan pelayaran hingga Ia bertemu dengan I La Pewajoq yang baik hati, sang penguasa Pao (Davao, Filipina Selatan).

Berdasarkan deskripsi I La Pewajoq, Ale Cina ternyata masih nun jauh di sana letaknya! Kerajaan tersebut diapit oleh negri Sabbang Mparu dan Baebunta. Sawerigading masih harus berlayar berpuluh malam lagi hingga bertemu samudera, berhadapan dengan “perempatan” yang terbentuk oleh belahan arus sungai di laut, hingga Ia menemukan sungai yang banyak ditumbuhi oleh pohon asana. Itulah Ale Cina.

Ada beberapa hal menarik yang terungkap melalui pelayaran Sawerigading.

Pertama; dari Luwu Ia berlayar ke selatan, lalu merubah haluannya (setelah melalui Selat Selayar) ke utara hingga akhirnya mendarat di Wewang Nriwuq (Teluk Mandar). Sebelum sampai di Barat (baca: Wewang Nriwuq) Ia sudah mengalahkan tujuh penguasa laut dari berbagai daerah yang berlayar di Teluk Bone (di antaranya bajak laut Jawa, Malaka, dan Buton).

Dari sana Ia mengarungi Selat Makassar menuju utara, sampai bertemu dengan kapal penguasa Davao di Laut Sulawesi. Perjumpaan dengan penguasa Davao yang letaknya di pulau Mindanao ini mengindikasikan bahwa Sawerigading melanjutkan pelayaranannya ke arah utara.

Kedua; setelah mendapatkan arahan mengenai lokasi Ale Cina, Sawerigading terus berlayar sampai menemukan daerah berbukit-bukit namun subur serta di dalamnya mengalir sungai-sungai dengan banyak pohon asana. Asana (Pterocarpus indicus) alias kayu narra merupakan sejenis pohon kayu yang endemik di kawasan hutan hujan tropis. Tumbuhan ini dapat ditemukan mulai dari Burma selatan, Kamboja, kepulauan Asia Tenggara, Pasifik barat, bahkan hingga Cina selatan. Daerah Annam (Indocina) sampai hari ini pun masih kaya dengan kayu yang kuat dan awet sebagai bahan furnitur ini.

Ketiga, perihal kondisi alam Annam. Berdasarkan data terbaru (2011) dari Index Mundi terkait geografi Vietnam, 40% wilayah negara ini terdiri atas perbukitan, 42% terdiri atas hutan tropis, dan sisanya adalah dataran rendah. Bagian utara negri ini (yang berbatasan dengan Cina) terdiri dari dataran tinggi dan delta Sungai Merah (Song Hong). Sungai Mekong yang terkenal itupun juga mengaliri bumi Vietnam, dari utara ke selatan. Ale Cina yang dialiri oleh tujuh sungai dan daratannya terdiri atas negri berbukit-bukit indah sempurna sekali untuk diletakkan di Annam. Lebar Sungai Merah di Vietnam amat sangat memungkinkan digunakan sebagai tempat pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi oleh berbagai macam pedagang dari mancanegara.

Logika arah pelayaran Sawerigading menuju barat-utara serta informasi mengenai spesies tumbuhan dan bentang alam Annam ternyata 90% cocok dengan deskripsi tentang Ale Cina di dalam naskah La Galigo!

0 komentar:

Post a Comment

silahkan di share