BELAJAR SEJARAH ~ PERANG JAWA SRIWIJAYA AKAR INVANSI MONGOL KE JAWA


Sri Gandra adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1181. Nama gelar abhisekanya ialah Sri Maharaja Koncaryadipa Handabhuwanapadalaka Parakrama Anindita Digjaya Uttunggadewa Sri Gandra.

Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Jaring, 19 November 1181. Isinya berupa pengabulan permohonan penduduk desa Jaring melalui Senapati Sarwajala tentang anugerah raja sebelumnya yang belum terwujud.

Tidak diketahui kapan pemerintahan Sri Gandra berakhir. Raja Kadiri selanjutnya berdasarkan prasasti Semanding tahun 1182 adalah Sri Kameswara.

Pada masa pemerintahannya inilah awal mula nama-nama hewan digunakan sebagai gelar kepangkatan seseorang dalam istana. Nama-nama ini menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang di istana kerajaan misalnya Menjangan Puguh, Lembu Agra, dan Macan Kuning. Gajah Hayam dan lainnya.

Disebutkan dalam dalam naskah kitab Pustaka Rājya-Rājyai Bhumi Nusāntara yang merupakan bagian dari Naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta Cirebon bahwa telah terjadi peperangan besar.

Yaitu Perang Jawa Vs Melayu yang pernah terjadi pada tahun 1103 Saka, peperangan besar tersebut meletus di perairan Sunda, yang mewakili bangsa Jawa dalam peperangan ini adalah Kerajaan Kediri sementara yang mewakil Bangsa Melayu dalam perang ini adalah Kerajaan Sriwijaya.

Dikisahkan Sri Gandra bersama angkatan perang Kediri menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau-pulau di bumi Nusantara, termasuk yang ada di Pulau Jawa dan pulau-pulau sebelah timurnya.

Armada lautnya yang besar berangkat beriringan menuju keutara, ke timur, ke barat. Mereka selalu mendapat kemenangan dalam perangnya.

Tetapi kerajaan-kerajaan di pulau bagian barat semua sudah tunduk kepada kerajaan Sriwijaya. Oleh karena itu, balatentara Kediri lalu menyerang kerajaan Sriwijaya. Demikianlah, armada laut Kediri dengan Sriwijaya berperang di tengah laut Jawa Barat.

Pada peperangan itu keduanya bertempur dengan gagah berani, tiada yang kalah. Masing-masing kembali ke negerinya. Cita-cita Sang Prabu Kediri tidak tercapai. Sedangkan kerajaan Sriwijaya tidak berani menyerang Kediri.

Dengan sendirinya Raja Sriwijaya kemudian menyuruh utusannya pergi kepada Maharaja Cina memberitahukan dan meminta bantuan Sang Maharaja Cina, karena Kerajaan Kediri ingin menyerang Kerajaan Sriwijaya. Bukankah sudah lama Kerajaan Sriwijaya bersahabat dengan Kerajaan Cina. Begitu juga Kerajaan Kediri sudah lama bersahabat dengan Kerajaan Cina.

Kemudian Maharaja Cina mengutus dutanya dengan membawa dua pucuk surat yaitu sepucuk surat untuk diberikan kepada Raja Sriwijaya, dan yang sepucuk lagi untuk diberikan kepada Raja Kediri.

Hal ini dilakukan oleh Sri Maharaja Cina supaya Kerajaan Kediri dan Kerajaan Sriwijaya segera mengakhiri perseteruan di antara mereka. Serta segera mengadakan perundingan.

Raja Kediri mempertimbangkan kembali dan mengakhiri perseteruan dengan menjalin persahabatan. Adapun yang dijadikan tempat mengadakan perjanjian persahabatan kedua negeri ituadalah Sundapura di Bumi Jawa Barat.

Yang menjadi saksinya dari beberapa negeri yaitu utusan dari Kerajaan Cina, utusan Kerajaan Yawana, Utusan Kerajaan Syangka, utusan Kerajaan Singhala, utusan Kerajaan Campa, utusan Kerajaan Ghaudi, dan beberapa utusan kerajaan dari Bumi Bharata.

Dengan segala usaha yang sungguh-sungguh akhirnya selesailah dengan sempurna, dengan mempererat persahabatan dan saling bekerjasama di antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kerajaan Kediri dalam segala hal, pada tahun seribu seratus empat (1104) Saka.

Keduanya menaati perjanjian persahabatan itu. Kemudian Kerajaan Sriwijaya sejak saat itu menguasai pulau-pulau di Bumi Nusantara sebelah barat serta Kerajaan Sang hyanghujung. Sedangkan Kerajaan Kediri semenjak itu menguasai pulau-pulau di Bumi Nusantara sebelah timur.

Di antara kerajaan-kerajaan yang takluk kepada Kerajaan Sriwijaya adalah Tringgano, Pahang, Langkasuka, Kalantan, Jelutung, Semwang, Tamralingga, Ghrahi, Palembang, Lamuri, Jambi, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Batak, Minangkabwa, Siyak, Rokan, Kampar, Pane, Kampeharw atau Mandahiling, Tumihang, Parllak, dan di barat Lwas Samudra, dan di Lamuri, Batan, Lampung, Barus, termsuk juga Jawa Barat di Bumi Sunda yaitu daerah yang berada di sebelah barat Sungai Cimanuk, atau di sebelah timur Sungai Citarum ke sebelah barat.

Sedangkan yang termasuk kerajaan daerah kerajaan Kediri di antaranya yaitu Tumapel, Medang, Hujung Ghaluh, Jenggi, daerah Jawa Tengah, Ghurun, dan pulau-pulau yang ada di Ghurun Tenggara, Nusa Bali, Badahulu, Lwah Ghajah, Sukun di Taliwang, dan Domposapi, Sanghyang Api, Bhim, Seran, Hutan, Lombok, Mirah, Saksakani, Bantayan, Luwuk, kemudian dari pulau-pulau Makasar, Butun, Banggawi, Kunir, Ghaliyao, Salaya, Sumba, Solot, Muar, Wandan, Ambwan, Maloko, Timur,Tanjungnagara di Kapuhas, Kantingan, Sampit, dan Kutalingga, Kutawaringin, Sambas, Laway, Kandangan di Landa, Tirem, Sedu, Buruneng, Kalka, Saludung, Solot, Pasir, Baritwa di Sawaku, Tabalung, Tanjungpura, dan beberapa puluh lagi kerajaan-kerajan kecil di pulau-pulau sekitar Bumi Nusantara.

Beberapa tahun setelah runtuhnya Kadiri oleh Kerajaan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singhasari pada masa pemerintaham Prabu Jayawiçnuwardhana, banyaklah sahabatnya dari berbagai negeri. Beberapa di antaranya yaitu, Kerajaan Sunda di Bumi Jawa Barat dan Kerajaan Melayu Dharmmasraya di Bumi Sumatera.

Raja Melayu Dharmmaçraya kala itu yaitu Sri Trailokyaraja Maulibhuçana Warmmadéwa memperistri Putri Raja Syangka.

Dari perkawinannya mempunyai anak beberapa orang. Tiga orang diantaranya masing-masing yaitu yang tertua di kemudian hari menggantikan ayahnya menjadi raja dengan gelar Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa. Yang kedua perempuan, Dara Kencana namanya. Dan yang ketiga Dara Puspa namanya, serta masih ada beberapa lagi anak Raja Melayu ini.

Pada waktu Prabhu Kertanagara menjadi Rajamuda Singhasari, beliau memperistri Dara Kencana. Sedangkan Dara Puspa diperistri oleh Rajamuda Kerajaan Sunda yaitu Rakryan Saunggalah yaitu Sang Prabhu Ragasuci namanya.

Dari perkawinannya, Prabhu Kertanegara dengan Dara Kencana lahirlah beberapa orang anak. Dua orang di antaranya yaitu Dara Jingga namanya dan Dara Petak namanya.

Adapun dari perkawinan Dara Puspa dengan Rakryan Saunggalah Prabhu Ragasuci lahirlah beberapa orang anak, salah satu di antaranya yaitu sang Prabhu Citragandha Bhuwanaraja, kelak menggantikan mertuanya yaitu Prabhu Ragasuci putra dari Prabhu Ghuru Dharmmasiksa menjadi raja Sunda.

Sedangkan Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa Sumatera bagian utara dijadikan sahabat oleh Maharaja Cina. Padahal sesungguhnya ada keinginannya untuk mengalahkan dan menguasai Bumi Nusantara, menjadi raja segala raja.

Oleh sebab itu Maharaja Cina selamanya bersahabat dengan Kerajaan Sriwijaya, serta memberikan bantuan segala macam perlengkapan perang ketika Sultan Perlak melepaskan negaranya dari kekuasaan 20 Kerajaan Sriwijaya.

Sang Sultan Perlak berdamai dan mencari bantuan kepada Kerajaan Singhasari. Pada seribu seratus sembilan puluh tujuh (1197) Tahun Saka Raja Singhasari Sri Maharaja Kartanagara mempersiapkan bala tentaranya menuju ke Negeri Melayu dipimpin oleh Sang Kebo Anabrang sebagai Panglima Angkatan Laut dan Panglima Perang.

Bala tentara Singhasari berangkat dengan segala peralatan perang dan
perlengkapannya. Balatentara Singhasari yang berangkat ke seberang memiliki tujuan yang banyak, di antaranya yaitu ingin menjalin persahabatan dengan Kerajaan Melayu, Kerajaan Parlak, dan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau-pulau di Bumi Nusantara.

Selain itu keberangkatan Sang Kebo Anabrang ke Sumatera dengan membawa pulang permaisuri yaitu Dara Kencana, istri Sri Maharaja Kertanagara, karena sang permaisuri ingin tinggal di Negeri Melayu, yaitu negerinya.

Balatentara Singhasari dijadikan pemimpin bagi kerajaan-kerajaan yang takluk kepada Kerajaan Singhasari termasuk negara yang sudah menjadi sahabat dan meminta agar terus menjalin persahabatan dengan Sri Maharaja Kertanagara.

Sebagai sahabat mereka, angkatan laut Singhasari selalu berkeliling ke negeri-negeri seberang yaitu Sanghyang Hujung, Tanjungpura, termasuk Bakulapura, Makasar termasuk pulau-pulaunya, Ghurun, Seran, dan pulau-pulau di sekitarnya, Sunda di Bumi Jawa Barat, Ambun, Maloko, dan pulau-pulau di sekitarnya, dan banyak lagi yang lainnya.

Oleh karena itu, ketika Sultan Perlak diserang oleh balatentara Sriwijaya, balatentara Singhasari datang ke situ, melepaskan Kerajaan Perlak yang ada di Pulau Sumatera bagian utara. Akhirnya balatetara Sriwijaya melarikan diri karena kalah.

Maharaja Cina marah ketika mengetahui balatentara Singhasari unggul perangnya melawan Stiwijaya. Tetapi balatentara Cina belum sempat membalas serangan itu, karena di dalam negerinya juga banyak pemberontakan.

Kemudian setelah peristiwa tersebut putri Sri Maharaja Kertanagara dari permaisuri Dara Kencana yaitu Putri Dara Jingga dijadikan istri oleh sang Rajamuda Melayu Sri Wiswarupakumara putra Raja Melayu Dharmmaçraya Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa pada seribu dua ratus tiga (1203) Tahun Saka.

Sri Kertanagara diberi hadiah arca Amoghapāça dan surat dari Raja Melayu dengan beberapa orang mentri raja, ahli nujum, dan balatentara Singhasari. Sangat senanglah hati rakyat negeri Melayu, dirajai oleh Raja Melayu Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa.

AdapunTribhuwanaraja dengan Dara Kencana itu kakak beradik. Jadilah Sri Wiswarupakumara dengan istrinya yaitu Dara Jingga saudara satu kakek.

Tetapi setelah itu Kerajaan Singhasari kemudian menyerang Swarnabhumi, dan Kerajaan Sriwijaya sendiri tidak kuat menahan serangan dari bala tentara Singhasari. Bukankah Sri Kretanagara menjadi menantu Raja Melayu.

Sementara itu, setelah mengalahkan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra pada tahun 1290, Kerajaan Singhasari pun menjadi kerajaan terkuat di daerah itu.

Karena itulah Kerajaan Singhasari menjadi pemimpin Kerajaan Melayu. Sedangkan bala tentara Sriwijaya melarikan diri ke utara sampai China.

Kubilai Khan penguasa Kekaisaran Mongol dankaisar Dinasti Yuan, mengirim utusan ke Jawadwipa untuk meminta mereka tunduk di bawah kekuasaannya dan membayar upeti. Tetapi Men Shi atau Meng-qi (孟琪), selaku utusan yang dikirim ke Jawadwipa, tidak diterima dengan baik oleh Raja Singhasari.

Prabhu Sri Kertanagara, tidak bersedia tunduk kepada Mongol dan justru mengecap wajah sang utusan dengan besi panas seperti yang biasa dilakukan terhadap pencuri, memotong telinganya, dan mengusirnya secara kasar.

Kubilai Khan sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Pada tahun 1292, dia pun memerintahkan dikirimkannya ekspedisi untuk menghukum Kertanegara, yang dia sebut orang barbar. Dan serangan ini juga memiliki tujuan lain.

Menurut Kubilai khan sendiri, jika pasukan Mongol mampu mengalahkan Jawa, negara-negara lain yang ada di sekitarnya akan tunduk dengan sendirinya. Dengan begitu, Dinasti Yuan Mongol dapat menguasai jalur perdagangan laut Asia, karena posisi geografis Nusantara yang strategis dalam perdagangan.

Berdasarkan naskah Yuan shi, yang berisi sejarah Dinasti Yuan, 20.000-30.000 prajurit dikumpulkan dari Fujian, Jiangxi dan Huguang di Tiongkok selatan, bersama dengan 1.000 kapal serta bekal untuk satu tahun. Pemimpinnya adalah Shi-bi (orang Mongol), Ike Mese (orang Uyghur), dan Gaoxing (orang Tiongkok).

Kublai memilih pasukan dari Tiongkok Selatan, karena mereka memakai baju perang ringan. Baju perang ringan dianggap lebih cocok di Jawa, yang merupakan negara tropis, sementara unit berzirah berat tidak cocok, seperti yang dicatat oleh Khan sendiri.

Jumlah kepemilikan baju besi tentara Yuan yang baru hanya 20%, dan tentara dari Tiongkok Utara sedikit lebih dari itu. Mereka memiliki banyak busur dan perisai, dan mereka juga memiliki banyak penembak, para infanteri berbaju besi penjaga belakang mereka dipersenjatai dengan tombak dan kapak yang berat. Tentara Mongolia juga membawa kuda.

Sejarah Yuan juga menyebutkan penggunaan senjata bubuk mesiu, dalam bentuk meriam (Bahasa Tiongkok: Pao). Jenis kapal yang digunakan tidak disebutkan dalam Yuan shi, tetapi Worcester memperkirakan kapal jung Dinasti Yuan memiliki lebar 11 meter dan panjang lebih dari 30 m. Dengan perbandingan jumlah kapal dan jumlah prajurit, setiap kapal kemungkinan dapat membawa 20-30 orang.

Pasukan Yuan berangkat dari Quanzhou bagian selatan lalu menyusuri pesisir Dai Viet dan Champa untuk menuju sasaran utama mereka. Negara-negara kecil di Malaya dan Sumatra tunduk dan mengirim utusan kepada mereka, dan komandan Yuan meninggalkan beberapa darughachi di sana.

Diketahui bahwa pasukan Yuan sempat berhenti di Ko-lan (Biliton, sekarang Pulau Belitung) pada bulan Januari 1293 untuk merencanakan penyerangan mereka. Pada Februari 1293, Ike Mese dan salah seorang komandan bawahannya berangkat terlebih dahulu untuk membawa perintah Kaisar ke Jawa.

Pasukan utama lalu berlayar ke Karimunjawa, dan dari sana berlayar ke Tuban. Berdasarkan Kidung Panji-Wijayakrama, pasukan Yuan kemungkinan sempat menjarah desa Tuban dalam perjalanan mereka.

Setelah itu, para komandan memutuskan untuk membagi pasukan menjadi dua. Pasukan pertama akan turun ke darat, yang kedua akan mengikuti mereka menggunakan perahu.

Shi Bi berlayar ke muara Sedayu, dan dari sana pergi ke sungai kecil bernama Kali Mas (yang merupakan percabangan sungai Brantas).

Pasukan darat di bawah Gao Xing dan Ike Mese, yang terdiri dari kavaleri dan infantri, pergi ke Du-Bing-Zu. Tiga komandan berlayar menggunakan kapal cepat dari Sedayu ke jembatan terapung Majapahit dan kemudian bergabung dengan pasukan utama dalam perjalanan ke Kali Mas.

Ketika pasukan Yuan tiba di Jawadwipa, Raden Wijaya berusaha bersekutu dengan mereka untuk melawan Jayakatwang. Dia memberi pasukan Mongol peta daerah Kalang.

Berdasarkan, Yuan-shi, Raden Wijaya pada awalnya sudah berusaha menyerang Jayakatwang sendirian namun tidak berhasil, sampai kemudian dia mendengar tentang kedatangan pasukan Yuan. Raden Wijaya lalu meminta bantuan mereka. Sebagai balasannya, Raden Wijaya berjanji akan tunduk pada kekuasaan Yuan.

Pada tanggal 1 Maret, semua pasukan telah berkumpul di Kali Mas. Di hulu sungai terdapat istana raja Tumapel (Singhasari).

Sungai ini adalah jalan masuk ke Jawa, dan di sini mereka memutuskan untuk bertempur. Seorang menteri Jawa memblokir sungai dengan menggunakan perahu. Para komandan Yuan kemudian membuat perkemahan berbentuk bulan sabit di tepi sungai.

Mereka menginstruksikan pasukan air, kavaleri dan infantri untuk bergerak maju bersama, yang kemudian berhasil menakuti menteri Jawa. Sang menteri meninggalkan perahunya dan melarikan diri di malam hari. Lebih dari 100 perahu besar yang digunakan untuk memblokir sungai berhasil direbut oleh pasukan Yuan.

Setelah itu, sebagian besar tentara ditugaskan untuk menjaga muara Kali Mas, sementara pasukan utama bergerak maju. Utusan Raden Wijaya mengatakan bahwa raja Kediri telah mengejarnya ke Majapahit dan memohon pasukan Yuan untuk melindunginya.

Karena posisi tentara Kediri tidak dapat ditentukan, tentara Yuan kembali ke Kali Mas. Setelah mendengar informasi dari Ike Mese bahwa pasukan musuh akan tiba malam itu, tentara Yuan berangkat ke Majapahit.

Pada 7 Maret, pasukan Kediri tiba dari 3 arah untuk menyerang Wijaya. Pada pagi hari tanggal 8, Ike Mese memimpin pasukannya untuk menyerang musuh di barat daya, tetapi tidak dapat menemukan mereka.

Gao Xing bertempur melawan musuh di arah tenggara, akhirnya memaksa mereka melarikan diri ke pegunungan. Menjelang tengah hari, pasukan musuh datang dari tenggara. Gao Xing menyerang lagi dan berhasil mengalahkan mereka di sore hari.

Pada 15 Maret, pasukan dibagi menjadi 3 untuk menyerang Kediri, dan disepakati bahwa pada tanggal 19 mereka akan bertemu di Daha untuk memulai serangan setelah mendengarkan tembakan pao (meriam).

Pasukan pertama berlayar menyusuri sungai, pasukan kedua yang dipimpin oleh Ike Mese berjalan di tepi sungai bagian timur sementara pasukan ketiga yang dipimpin oleh Gao Xing berjalan di tepi sungai barat.

Tentara tiba di Daha pada 19 Maret. Di sana, pangeran Kediri mempertahankan kotanya dengan pasukannya. Pertempuran berlangsung dari pukul 6.00 hingga pukul 14.00. Setelah menyerang 3 kali, pasukan Kediri dapat dikalahkan dan melarikan diri.

Sementara pasukan Mongol dan Kediri sedang bertempur, pasukan Majapahit menyerang kota dari arah lain dan dengan cepat mengalahkan penjaganya. Istana Jayakatwang dijarah dan dibakar.

Beberapa ribu pasukan Kediri mencoba menyeberangi sungai dan tenggelam, sementara 5.000 tewas dalam pertempuran. Raja Jayakatwang mundur ke bentengnya, dan menemukan bahwa istananya telah terbakar.

Pasukan Mongol kemudian mengepung kota Daha dan meminta Jayakatwang menyerah. Pada sore hari, Jayakatwang menyatakan takluk kepada bangsa Mongol.

0 komentar:

Post a Comment

silahkan di share